Showing posts with label medis. Show all posts
Showing posts with label medis. Show all posts

Tuesday, November 26, 2013

Dokter , kriminalisasi , defensive medicine dan akibatnya

Pendahuluan
Sudah nonton episode pertama drama Good Doctor ? Drama ini salah satu drama Korea bertema kedokteran yang keluar di tahun 2013. Dalam drama ini dikisahkan tentang Park Shi On , seorang calon residen bedah anak yang dalam perjalanannya ke rumah sakit menemukan seorang anak yang kejatuhan papan iklan di stasiun. Dalam situasi gawat darurat tersebut, dr Park melakukan tindakan bantuan hidup dasar seperti pemberian nafas bantu , perikadiosintesis dengan menggunakan alat seadanya, pemasangan infus dan OTT, bahkan melakukan krikotiroidotomi agar si anak selamat.
Mungkin tindakan heroik seperti itu tidak akan pernah ditemukan di Indonesia. Mengapa?

Dokter Indonesia
Pertama kali dikirimi kartu tanda identitas IDI , suatu kebanggaan menjadi seorang dokter yang sepenuhnya baik bagi orang tua, keluarga, terlebih untuk diri sendiri. Yah, kebanggaan untuk bisa mengabdi , menjadi perpanjangan tangan Tuhan melayani banyak orang dari penyakit yang mereka alami.
Sejak masuk di dunia kedokteran, saya sadar bahwa pekerjaan dokter dibatasi oleh hukum. Jauh di atas iti ada etika dalam menjalankan prinsip-prinsip kedokteran. Seorang dokter telah disumpah untuk melakukan tugas , tanggung jawab dan pengabdiannya dengan sepenuh hati menggunakan semua kemampuan yang dia miliki.
Setiap dokter harus bekerja sesuai standar operasional prosedur yang telah ditetapkan.
Sebagai contoh , seorang dokter kebidanan dan kandungan yang memeriksa klien ibu dari dinyatakan hamil hingga masa neonatus. Selama masa yang panjang itu , klien diperiksa secara teratur dan dari hasil pemeriksaan itu sang dokter akan memutuskan proses kelahiran seperti apa yang akan dilalui seorang ibu. Pada umumnya, bila tak ada kondisi abnormal, sang ibu akan diawasi menuju pembukaan lengkap dan dipimpin untuk melahirkan normal. Dalam waktu yang beberapa jam hingga beberapa detik itu, kondisi ibu dan janin dapat berubah, sehingga sang dokter harus memutuskan dengan cepat dan mengambil tindakan dengan cepat pula.

Kriminalisasi

Sebagaimana contoh di atas, baru-baru ini tiga orang sejawat yang dalam pendidikan spesialisasi kebidanan dan kandungannya mengalami kejadian seperti pada contoh di atas. Dalam perjalanan beberapa detik itu, sang dokter harus memilih untuk melahirkan janin melalui proses pembedahan atau sectio caesarea. Meskipun telah melalui serangkaian prosedur yang sesuai dengan standar prosedur , pada akhirnya sang ibu tidak dapat diselamatkan. Menurut hasil otopsi, penyebab kematiannya adalah karena adanya emboli.
Patut diketahui bahwa , emboli merupakan salah satu resiko medis yang ditakuti terjadi, tidak hanya melalui pembedahan bahkan melalui cara persalinan normal pun dapat terjadi. Harus ditekankan bahwa hal ini bukanlah sebuah tindakan malpraktek, namun merupakan sebuah resiko medis.
Dalam waktu yang sangat singkat, dokter dan timnya harus memutuskan penanganan bagi pasien, yang tentu saja bertujuan untuk penyelamatan pasien.
Sebagai warga negara tentu saja setiap dari kita harus menghormati proses peradilan. Sayangnya, menurut saya dan rekan-rekan , proses pengadilan tidak memperhatikan bukti-bukti yang ada serta hasil penyelidikan dari komite etik yang telah memeriksa para terdakwa.
Berbeda halnya bila kasus yang dikenakan seperti tindakan abortus kriminalis. Baik secara hukum, terlebih etika kedokteran tidak membenarkan hal tersebut. Tindakan seperti ini yang menyalagunakan wewenang dan sumpah kedokterannya harus dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sementara, yang terjadi pada ketiga sejawat di atas adalah murni resiko medis dari proses persalinan pada sang ibu. Para sejawat tersebut telah melakukan tugasnya sesuai dengan standar operasional prosedur yang ada yang pada hakikatnya diharapkan sang ibu dan calon bayi dapat diselamatkan keduanya.
Hal inilah, yang sangat merisaukan lingkungan dunia kedokteran. Bila, bahkan dari suatu tindakan menolong ini yang telah sesuai dengan prosedur yang berlaku , dan kejadian yang tidak diharapkan terjadi, seperti pada kasus ini maka sang dokter akan mengalami tindakan hukum.
Harus dipahami bahwa dokter tidak dapat menjanjikan hasil, yang diupayakan adalah proses sesuai dengan prosedur dan diharapkan adalah pasien selamat.

Defensive Medicine
Dari cerita panjang di atas, ditakutkan akan terjadinya tindakan defensife medicine dari para petugas kesehatan terutama dokter dalam menjalankan tugasnya. Semisal, bila ada pasien yang darurat dan membutuhkan pertolongan segera, sang dokter akan menunggu untuk melakukan inform concent kepada keluarganya mengenai keadaan pasien kepada keluarga, bila keluarga setuju, sang dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan sebelum akhirnya melakukan tindakan terhadap pasien. Sejumlah waktu dan biaya yang tentu lebih besar diperlukan hingga, pasien mungkin saja tidak tertolong.
Ilustrasi lain adalah, pada pasien yang mengalami luka luar yang sebelumnya langsung dijahit oleh dokter, pada tindakan  defensive medicine , sang dokter mungkin akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti pemeriksaan darah dan ronsen. Hasilnya, biaya dan waktu yang dibutuhkan lebih banyak.
Dari kasus yang baru -baru ini terjadi, pada dasarnya para dokter tetap berpegang teguh dan mengikut pada hukum dan etika yang berlaku. Tidak ada seorang dokterpun yang berniat mencelakakan pasiennya.
Jadi, alasan mengapa tindakan-tindakan heroik tidak mungkin atau pun akan sangat kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia sudah terjawab pada ilustrasi di atas.
Salam

Tuesday, July 20, 2010

Mortalitas Maternal di 181 negara dari tahun 1980 – 2008

Margaret C Hogan, Kyle J Foreman, Mohsen Naghavi, Stephanie Y Ahn, Mengru Wang, Susanna M Makela, Alan D Lopez, Rafael Lozano,
Christopher J L Murray

(Maternal mortality for 181 countries, 1980–2008: a systematic analysis of progress towards Millennium Development Goal 5)
Lancet 2010; 375: 1609–23


Mortalitas maternal didefenisikan sebagai kematian seorang wanita dalam masa kehamilan, melahirkan atau hingga 42 hari setelah melahirkan. Kematian ini merupakan salah satu masalah utama system kesehatan di seluruh dunia. Penurunan angka kematian maternal merupakan salah satu dari delapan tujuan dari Millenium Development Goal [MDG 5]. Target MDG 5 adalah menurunkan ratio mortalitas maternal tiga perempatnya dari 1990 hingga 2015.

Thursday, October 15, 2009

Hari Cuci Tangan Sedunia




Hari ini (15/10/09) untuk kedua kalinya, diperingati hari Cuci Tangan Sedunia. Pada tahun ini Depkes mengambil tema Cuci Tangan Pakai Sabun, Cegah Penyebaran Flu Baru H1N1.
Cuci tangan merupakan salah satu kampenye global yang dicanangkan oleh PBB dengan peserta lebih dari 70 negara di dunia sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, seperti yang disampaikan USAID, menyatakan kematian balita dan anak-anak Indonesia terbesar adalah akibat diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Menurut penelitian, perilaku kecil seperti mencuci tangan dengan sabun dapat berdampak besar mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen.
Sayangnya tidak semua orang melakukan cuci tangan yang rutin. Dan dari semua yang melakukan cuci tangan, tidak semuanya mengetahui dan memahami cara mencuci tangan yang baik dan benar.
Tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan yaitu:
a. Cuci tangan higienik atau rutin bertujuan mengurangi kotoran dan flora yang ada di tangan, dengan menggunakan sabun atau deterjen.
b. Cuci tangan aseptik dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien, dengan menggunakan antiseptik.
c. Cuci tangan bedah (surgical handscrub) dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik, dengan antiseptik dan sikat steril.

Cuci Tangan Higienis/Rutin
Persiapan:
o Sarana cuci tangan tersedia
o Air bersih yang mengalir (dari kran, ceret atau sumber lain)
o Sabun sebaiknya dalam bentuk sabun cair
o Lap kertas atau kain yang kering
o Kuku dijaga selalu pendek
o Cincin dan gelang perhiasan harus dilepas dari tangan

Prosedur cuci tangan yang benar:
o Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir.
o Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa percikan.
o Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok kedua telapak tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok telapak tangan.
o Proses berlangsung selama 10-15 detik.
o Bilas kembali dengan air sampai bersih.
o Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau handuk katun kain sekali pakai.
o Matikan kran dengan kertas atau tisu.
o Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang tidak steril.

Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air, suatu cara yang sudah diketahui sejak lama, ternyata merupakan cara terbaik dalam membebaskan tangan dari kuman penyakit. Walaupun saat ini telah bermunculan berbagai produk untuk membersihkan tangan seperti gel anti bakteri dan tisu basah.




Wednesday, April 29, 2009

Data dan pertanyaan seputar flu babi (2)

Berikut adalah lanjutan dari postingan sebelumnya mengenai Flu Babi (Swine Flu) yang diterjemahkan dari webMD Health News.

Saya mendapatkan injeksi vaksin flu. Apakah saya terlindungi dari flu babi ?

Tidak. Sampai saat ini tidak ada vaksin flu babi.
Hal ini dimungkinkan bahwa vaksin flu musiman mungkin memberikan beberapa perlindungan terhadap flu babi tipe H3N2. Tetapi strain yang muncul di California adalah strain flu babi H1N1. Hal ini sangat berbeda dengan strain flu H1N1 pada manusia yang dimasukkan dalam vaksin flu musiman.
Belum diketahui apakah infeksi sebelumnya dengan virus flu H1N1 manusia dapat memberikan beberapa perlindungan terhadap tipe flu babi yang sedang menjangkit.
Bagaimanapun, CDC telah membuat suatu biakan vaksin dari flu babi yang diisolasi dari seorang yang terinfeksi, dan telah memulai proses pengembangan suatu vaksin yang dikembangkan. Jika suatu vaksin dapat diproduksi dalam jumlah oleh flu musiman berikutnya merupakan suatu pertanyaan besar.

Seberapa serius Ancaman terhadap Kesehatan Masyarakat oleh epidemic flu babi ?

Adanya epidemic flu agak mencemaskan, terutama bila ditemukan suatu jenis strain baru.
“Virus-virus influenza A yang baru pada populasi manusia yang mungkin secara efisien berpindah dari manusia ke manusia dan menyebabkan penyakit mungkin memberikan gambaran suatu ancaman pandemic,” peringatan CDC.
Hal ini mencemaskan bahwa, tidak seperti flu musiman, flu babi yang merebak di Meksiko menyerang orang muda yang sehat. Hal ini merupakan suatu tanda dari penyebab pandemic flu.
Tetapi membutuhkan lebih dari suatu virus baru yang menyebar pada masyarakat untuk menyebabkan pandemi. Virus harus mampu untuk menyebar secara efisien dari satu orang ke yang lain, dan penyebaran harus didukung setiap waktu. Sebagai tambahan, virus harus menyebar secara geografis.

Apakah ada suatu penatalaksanaan terhadap flu babi ?

Ya. Sementara flu babi resisten terhadap pengobatan flu yang lama, dan masih menyisakan pengobatan yang sensitive seperti Tamiflu dan Relenza.

Apakah anda dapat menderita flu babi dengan memakan dagingnya ?

Tidak. Anda hanya dapat menular dengan berada di sekitar babi yang terinfeksi – atau, jika ini merupakan virus flu babi yang baru, dapat melalui orang yang terinfeksi.





[get this widget]

Data dan pertanyaan tentang Flu Babi


Oleh Daniel J. Noon
WebMD Health News
Reviewed by Louise Chang, MD
Diterjemahkan bebas dari webMD Health News by Attonk

Virus flu babi di Amerika Serikat merupakan bentuk yang sama dengan penyebab epidemi yang mematikan di Meksiko. Apa itu flu babi ? Apa yang dapat kita lakukan ? WebMD menjawab pertanyaan anda.

Apa itu Flu Babi ?

Seperti manusia , babi dapat terinfeksi flu. Empat strain flu babi tipe A yang berbeda secara umum menyebar pada kawanan babi. Kebanyakan virus-virus flu babi yang baru merupakan subtype H1N1 dan H3N2. Babi secara khas dapat sakit tetapi biasanya tidak mati akibat flu babi.
Virus flu babi yang baru menginfeksi manusia sangat tidak lazim. Hal ini entah bagaimana gen-gen yang diperoleh dari babi, burung dan binatang-binatang penyebar flu pada manusia. Dan juga diperlukan gen-gen dari virus flu babi Eurasia yang diperkirakan tidak ada di Amerika bagian Utara.

Apakah Manusia dapat terjangkit Flu Babi ?

Pada keadaan normal, binatang penyebab flu babi tidak dapat menginfeksi manusia. Dalam sejarah, didapatkan suatu kasus setiap satu atau dua tahun di Amerika Serikat pada manusia yang bersentuhan dengan babi hidup.
Namun sejak Desember 2005 hingga Januari 2009 didapatkan suatu tanda peningkatan kasus flu babi. Ditemukan 12 infeksi flu babi pada manusia dalam masa itu. 11 dari orang ini secara langsung atau tidak bersentuhan dengan babi ; pada kasus ke12, tidak diketahui apakah ada riwayat sentuhan dengan babi.
Tanda peningkatan kasus ini mungin dikarenakan oleh perbaikan system pelaporan, tetapi CDC menyatakan “ perubahan genetic pada virus-virus flu babi dan factor-faktor lain mungkin menjadi satu factor.”
Virus flu burung yang baru berbeda. Hal ini belum jelas bahwa di sini mereka tinggal. Tetapi virus menginfeksi manusia, dan petugas kesehatan dunia menutup mata untuk masalah tersebut.

Apa gejala dari Flu Babi ?

Gejala-gejala flu babi mirip dengan gejala-gejala flu umum dan berupa batuk, nyeri tenggorokan, demam, menggigil, sakit kepala, dan lemas. Beberapa pasien juga dilaporkan mual dan diare. Tidak mudah untuk membedakan flu babi dengan tipe-tipe lain dari flu atau kuman lain. Hal ini memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan adanya flu babi.

Dapatkah flu babi menular antar manusia ?

Penduduk Amerika Serikat yang terinfeksi virus flu babi tidak bersentuhan langsung dengan babi. CDC mengungkapkan bahwa kemungkinan infeksi memberikan gambaran siklus infeksi secara meluas terpisah antara manusia dengan manusia.

Apakah sebelumnya pernah flu babi merebak luas ?

Jika flu babi terdengar lazim, hal ini mungkin karena anda mengingat atau pernah mendengar mengenai penjangkitan flu babi pada tahun 1976 di Fort Dix, N.J. pada perekrutan anggota militer. Setidaknya sekitar sebulan dan kemudian menghilang secara misterius sama halnya dengan saat kemunculan. Sebanyak 240 orang terinfeksi ; satu orang meninggal.
Flu babi yang berkembang di Fort Dix merupakan strain H1N1. Virus ini merupakan strain flu yang sama yang menyebabkan pandemic flu yang menyebabkan malapetaka pada 1918 hingga 1919, yang menyebabkan 10 tiap sejuta orang meninggal.
Keprihatinan mengenai pandemi baru H1N1kembali pada musim dingin yang berlanjut paada suatu program besar-besaran untuk menciptakan suatu vaksin dan vaksinasi semua warga Amerika melawan flu babi. Program vaksin mengalami banyak kendala – tidak ssesedikit yang dipersepsikan orang bahwa vaksin menyebabkan tingkat berlebihan reaksi yang berbahaya. Setelah lebih dari 40 juta orang yang divaksinasi, usaha in ditinggalkan.
Sebagai hasil, tidak ada epidemic flu babi.












[get this widget]

Thursday, February 26, 2009

Amerika Serikat telah menembus 1 juta kasus AIDS

CDC mengatakan bahwa lebih dari setengah kasus baru HIV/AIDS merupakan ras AfroAmerika

Statistik terbaru CDC mengungkapkan bahwa pasien AIDS di Amerika Serikat telah mencapai 1 juta orang.
Pada tahun 2007, ada 455.636 warga Amerika hidup dengan AIDS. Di 34 negara bagian yang melaporkan kasus infeksi HIV, ada 571,378 hidup dengan HIV atau AIDS pada akhir tahun 2007.
Beberapa statistic dari laporan tahunan CDC :
•Wanita menyumbang 27% dari kasus orang dewasa dan remaja yang didiagnosis AIDS pada tahun 2007
•Sejak 2003 hingga 2007, mortalitas AIDS pada orang Amerika menurun 17%
•Dari pria yang hidup dengan AIDS atau HIV, 64% terinfeksi melalui hubungan seksual homoseksual
•40% orang yang hidup dengan AIDS berada di bagian Selatan, 29% di Timur Laut, 20% di Barat, dan 11% di Midwest.

Data ini dapat ditemukan dalam laporan tahunan Surveilen HIV/AIDS CDC








[get this widget]

Friday, January 30, 2009

Masturbasi dan Resiko Kanker Prostat

Berita penting untuk yang mengaku para pria dan sering melakukan 501


Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa keseringan masturbasi pada pria muda dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker prostat. Tingginya angka hormone seks pria atau androgen mungkin meningkatkan resiko pria terkena kanker prostat. Namun, dari penelitian lain yang dilakukan dengan cara berbeda memperoleh kesimpulan yang berbeda. Sebuah tim peneliti dari England’s University of Nottingham melihat apakah pria dengan lebih intens memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kanker prostat.


Bila dalam tulisan sebelumnya, dan di kebanyakan tulisan yang mengulas tentang masturbasi a.k.a onani pada pria disebutkan bahwa tidak ada resiko kesehatan yang berarti. Selain adanya perasaan bersalah dan berdosa.

Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa keseringan masturbasi pada pria muda dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker prostat. Tingginya angka hormone seks pria atau androgen mungkin meningkatkan resiko pria terkena kanker prostat. Namun, dari penelitian lain yang dilakukan dengan cara berbeda memperoleh kesimpulan yang berbeda. Sebuah tim peneliti dari England’s University of Nottingham melihat apakah pria dengan lebih intens memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kanker prostat.

Polyxeni Dimitropoulou,PhD ; Rosalind Eeles,PhD,FRCP; dan Kenneth R. Muir,PhD, melakukan anamnesis terperinci mengenai riwayat seksual pada 840 pria. Sekitar setengahnya mengalami kanker prostat pada usia 60 tahun.
Penemuan ini mengejutkan. Hubungan seksual tidak memberikan efek pada resiko kanker prostat. Namun, intensitas masturbasi turut mempengaruhi- dengan pengaruh yang berbeda, pada periode waktu yang berbeda.

Dimitropoulou menyebutkan “sering masturbasi selama usia 20 hingga 30 tahun pada pria meningkatkan resiko mereka terkena kanker prostat." Tentu saja, sering masturbasi merupakan suatu yang relative.

Pada pria dengan usia 20 tahun, “sering masturbasi” didefenisikan dua hingga tujuh kali perminggu. Dibandingkan dengan pria yang berusia sama yang melakukan masturbasi kurang dari sekali sebulan, ditemukan bahwa pria berusia 20 tahun yang sering melakukan masturbasi memiliki resiko 79% lebih tinggi mengalami kanker prostat 40 tahun kemudian.
Dimitropoulou dan timnya memiliki beberapa teori mengenai hal tersebut. Mereka menduga bahwa pria muda secara genetic memiliki predisposisi hormone sensitive kanker prostat yang akan meningkatkan resiko jika tubuh mereka secara alami memproduksi hormone pria pada level yang tinggi – hormone yang sama dengan yang mengatur intensitas seks.Oleh karena itu, bukan masturbasi satu-satunya yang menyebabkan peningkatan kanker prostat. Lebih sering masturbasi mungkin berarti lebih sering melakukan seks- sehingga lebih banyak androgen yang mempengaruhi jaringan prostat.
Dimitropoulou mengatakan bahwa hal ini sesuatu yang logis , jangan terlalu sering , tetapi juga tidak sama sekali. –he he he –‘ jadi masih ada kesempatan donk ???’
Penemuan ini dilaporkan pada isu bulan Januari di BJU International.
Berita aslinya dapat kamu baca di sini


Sumber :
http://www.webmd.com/prostate-cancer/news/default.htm




[get this widget]

Wednesday, January 28, 2009

Mini Poster AIDS

Kemarin seorang teman yang juga junior dan masih dalam tingkat preklinik mengabarkan kalau dia sedang di sistem Geriatri dan mau minjam bahan kuliahnya. kebetulan file-file masih ada ngumpul dengan bahan IKM dulu. Sebelum dia ambil, saya cek dulu apa filenya sudah benar atau gimana. Ternyata di dalamnya masih ada mini poster yang dulu kelompok saya buat saat presentasi mini poster dalam PBL (program based learning) IKM.Berikut mini posternya. Silakan koment











[get this widget]

Friday, December 19, 2008

Euthanasia Menurut Ajaran Gereja Katholik

oleh: P. William P. Saunders *


Seorang kerabat saya menderita kanker yang tak tersembuhkan. Kami sama sekali tak hendak menyakitinya, tetapi kami juga tak hendak memperpanjang penderitaannya yang sia-sia. Bagaimakah pedoman moral Gereja mengenai keadaan semacam ini?
~ seorang pembaca di Leesburg

Sejak pertengahan abad ke-20, Gereja Katolik telah berjuang untuk memberikan pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan terhadap mereka yang menderita sakit tak tersembuhkan, sehubungan dengan ajaran moral Gereja mengenai eutanasia dan sistem penunjang hidup. Paus Pius XII, yang tak hanya menjadi saksi dan mengutuk program-program egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi saksi atas dimulainya sistem-sistem modern penunjang hidup, adalah yang pertama menguraikan secara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman. Pada tahun 1980, Kongregasi untuk Ajaran Iman menerbitkan “Declaratio de Euthanasia” yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, teristimewa mengingat semakin meningkatnya kompleksitas sistem-sistem penunjang hidup dan gencarnya promosi eutanasia sebagai sarana yang sah untuk mengakhiri hidup. Paus Yohanes Paulus II, yang prihatin dengan semakin meningkatnya praktek eutanasia, dalam ensiklik “Evangelium Vitae” (No. 64) memperingatkan kita agar melawan “gejala yang paling mengkhawatirkan dari `budaya kematian' …. Jumlah orang-orang lanjut usia dan lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang mengganggu.” Katekismus Gereja Katolik (No 2276-2279) juga memberikan ikhtisar penjelasan ajaran Gereja Katolik kita tentang hal ini.Mengenai masalah ini, prinsip-prinsip berikut mengikat secara moral: Pertama, Gereja Katolik berpegang teguh bahwa baik martabat setiap individu maupun anugerah hidup adalah kudus. Kita menghormati kekudusan kelangsungan hidup manusia sejak dari saat pembuahan hingga kematian yang wajar.
Kedua, setiap orang terikat untuk melewatkan hidupnya sesuai rencana Allah dan dengan keterbukaan terhadap kehendak-Nya, dengan menaruh pengharapan akan kepenuhan hidup di surga. Sebab itu, pemeliharaan hidup bukan hanya sekedar masalah “jasmani” di mana kita banyak mencurahkan perhatian pada tubuh dan kehidupan jasmani, hingga kita kehilangan pandangan akan jiwa, kehidupan rohani individu dan tujuan kehidupan kekalnya. Karenanya, kita wajib menimbang apakah suatu perawatan hanya sekedar menjaga fungsi tubuh dan menunda kematian, ataukah suatu perawatan membantu individu dalam memperkuat hidup dan memulihkan kesehatan. Akan tiba waktunya di mana seseorang meninggalkan kehidupan di dunia ini dan kembali kepada Tuhan dalam suatu kehidupan yang baru.


Ketiga, dengan sengaja mengakhiri hidup sendiri adalah bunuh diri dan merupakan penolakan terhadap rencana Allah. Pula, melakukan percobaan atas kehidupan atau membunuh seorang yang tak bersalah merupakan suatu tindak kejahatan. Oleh karena alasan-alasan di atas, Konsili Vatikan II mengutuk, “apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran, eutanasia atau bunuh diri yang disengaja….” (Gaudium et Spes, No. 27).

Berdasarkan pemahaman seperti yang dijelaskan, kita percaya bahwa setiap orang wajib mempergunakan sarana-sarana perawatan kesehatan yang biasa. Di sini, orang akan berpikir mengenai nutrisi yang dibutuhkan - makanan dan minuman - dan perawatan kesehatan biasa. Biasa berarti menawarkan pengharapan yang masuk akal akan manfaatnya dan tidak terlalu membebani baik pasien maupun keluarga.

Seorang dapat, tetapi tidak wajib untuk, mempergunakan sarana-sarana luar biasa - sarana-sarana yang pada dasarnya tidak dianggap sebagai perawatan kesehatan biasa atau umum. Sarana-sarana luar biasa ini tidak menawarkan pengharapan yang masuk akal akan manfaatnya dan dapat sangat membebani baik pasien maupun keluarga. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan apakah suatu perawatan merupakan suatu perawatan luar biasa adalah jenis penanganan, tindak kerumitannya atau resikonya, biayanya dan kemungkinan mempergunakannya, dan dengan membandingkan unsur-unsur ini dengan hasil yang dapat diharapkan, seraya memperhatikan keadaan orang yang sakit dan kekuatan jasmani dan kejiwaannya. Akan tetapi, tentu saja, di dunia kita sekarang ini, semakin dan semakin sulit saja untuk secara tepat mendefinisikan apa yang diklasifikasikan sebagai perawatan kesehatan luar biasa. Sebagai misal, menerima jantung buatan jelas sifatnya eksperimen dan akan diklasifikasikan sebagai luar biasa; sementara penggunaan respirator atau ventilator seringkali merupakan prosedur standard dalam membantu kesembuhan pasien.

Walau Gereja membuat pembedaan antara sarana-sarana biasa dan luar biasa, namun Gereja tidak akan menolerir tindakan eutanasia dalam bentuk apapun. Eutanasia, yang secara harafiah diterjemahkan sebagai kematian yang baik atau kematian tanpa penderitaan, adalah “tindakan atau pantang tindakan yang menurut hakikatnya atau dengan maksud sengaja mendatangkan kematian, untuk dengan demikian menghentikan setiap rasa sakit” (Declaratio de Euthanasia). Dengan kata lain, eutanasia menyangkut mengakhiri hidup dengan sengaja melalui suatu tindakan langsung, seperti suntik mati, atau dengan suatu pantang, seperti membiarkan kelaparan atau kehausan (= dehidrasi). Perlu dicatat bahwa eutanasia biasa dikenal sebagai “membunuh karena kasihan”; istilah ini paling tepat sebab tindakan yang dilakukan bertujuan untuk membunuh dengan sengaja, tak peduli betapa baik tujuannya, misalnya, untuk mengakhiri penderitaan. Paus Yohanes Paulus II juga menegaskan bahwa eutanasia merupakan tindakan belas kasihan yang keliru, belas kasihan yang semu: “Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut menanggung penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak membunuh orang, yang penderitaannya tidak dapat kita tanggung” (Evangelium Vitae, No. 66). Sebab itu, Bapa Suci memaklumkan, “Memperhatikan distingsi-distingsi itu, selaras dengan Magisterium para Pendahulu kami, dan dalam persekutuan dengan para Uskup Gereja Katolik, kami mengukuhkan bahwa eutanasia itu pelanggaran berat hukum Allah, karena berarti pembunuhan manusia yang disengaja dan dari sudut moril tidak dapat diterima” (Evangelium Vitae, No. 65).

Walau demikian, eutanasia harus dibedakan dari menghentikan sarana-sarana perawatan kesehatan luar biasa atau perawatan kesehatan agresif lainnya. Pasien - atau wali dalam kasus pasien tak sadarkan diri - berhak menolak secara tulus atau mengakhiri prosedur-prosedur luar biasa tersebut, yang tak lagi menjawab situasi nyata pasien, yang tidak menawarkan manfaat yang proporsional, yang tidak menawarkan pengharapan yang masuk akal akan manfaatnya, yang mendatangkan beban teramat berat bagi pasien maupun keluarga, atau sekedar karena “kegagahan”. Keputusan yang demikian adalah yang paling tepat apabila kematian jelas di ambang pintu serta tak terhindarkan. Di sini, orang dapat menolak bentuk-bentuk perawatan yang hanya sekedar memperpanjang hidup dengan disertai resiko dan beban berat. Dalam kasus-kasus demikian, orang dapat menyerahkan diri ke dalam tangan kasih Tuhan dan bersiap diri meninggalkan dunia ini, sembari mempertahankan sarana-sarana perawatan kesehatan biasa.

Sebagai contoh, beberapa tahun lalu, seorang imam yang adalah sahabat yang saya kasihi, didiagnosa menderita kanker pankreas dan diberitahu bahwa penyakit itu akan mendatangkan kematian baginya. Daripada menjalani chemotherapy atau radiasi yang menyakitkan, yang hanya dapat memberinya harapan hidup enam bulan lebih lama, imam mengikuti program perawatan yang menyediakan nutrisi yang dibutuhkan, penanganan penyakit, dan perawatan kesehatan yang bagus. Ia mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Tuhan yang telah ia layani sebagai imam selama 45 tahun. Tentu saja, ia dapat menjalani chemotherapy atau radiasi; tetapi alternatif-alternatif ini adalah perawatan kesehatan luar biasa, sebab tidak menawarkan pengharapan yang masuk akal akan manfaatnya. Tindakannya secara moral sesuai dengan ajaran Katolik.

Seorang teman yang lain menghadapi ajal karena prostrate yang telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Terakhir kali saya menjenguknya di rumah sakit, ia telah dalam keadaan koma; ia makan lewat slang makanan dan bernapas lewat respirator. Ia mengalami gagal ginjal pula. Para dokter menyampaikan kepada keluarga bahwa tak ada lagi yang dapat mereka lakukan dan bahwa situasinya tak dapat berubah. Hingga tahap itu, teknologi medis tak dapat memberikan pengharapan kesembuhan atau manfaat, melainkan hanya sekedar menunda proses kematian. Keluarga memutuskan untuk menghentikan respirator, yang sekarang telah menjadi sarana luar biasa, dan beberapa menit kemudian teman saya pun pergi menjumpai Tuhan-nya. Tindakan ini secara moral dibenarkan dan dibedakan dari tindakan mengakhiri hidup secara sengaja.

Patut diperhatikan bahwa dalam dua kasus di atas, jika seseorang memutuskan untuk memberikan injeksi mati kepada pasien, atau tidak memberikan perawatan kesehatan yang biasa, seperti makanan dan minuman, maka hal itu akan merupakan suatu tindakan pembunuhan yang disengaja.

Memang, tak seorang pun suka menderita dan tak seorang pun suka melihat orang yang dikasihinya menderita. Namun demikian, kita wajib ingat bahwa masing-masing kita dibaptis dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Kita semua ikut ambil bagian dalam salib Kristus, dan bahwa terkadang hal itu dapat amat menyakitkan. Akan tetapi, penderitaan ini, teristimewa penderitaan di saat-saat akhir hidup seseorang, haruslah dipandang sebagai keikutsertaan dalam penderitaan Kristus. Dengan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus, kita menyilih luka-luka yang diakibatkan dosa-dosa kita dan membantu menyilih dosa-dosa orang lain juga, sama seperti yang dilakukan sebagian dari para martir awali yang mempersembahkan penderitaan mereka demi orang-orang berdosa. Terkadang, penderitaan yang demikian pada akhirnya dapat menyembuhkan luka-luka yang telah memisahkan keluarga-keluarga. Haruslah kita mengarahkan pandangan pada Kristus agar Ia membantu kita dalam penderitaan dan membimbing kita dari kehidupan ini kepada DiriNya.

Tak satu pun dari kasus-kasus yang demikian itu mudah. Dengan segala teknologi medis dan sistem penunjang hidup, keluarga semakin sulit menentukan keputusan dalam keadaan demikian. Walau begitu, ada suatu perbedaan besar antara membunuh orang secara sengaja, dan membiarkan orang meninggal dengan tenang penuh martabat, sementara meneruskan sarana-sarana perawatan kesehatan yang biasa. Dengan banyak doa, keluarga, dengan bimbingan nasehat imam dan dokter, perlu menerapkan prinsip-prinsip moral bagi setiap keadaan individu. Terlebih lagi, kita wajib ingat bahwa “Selain upaya-upaya dokter, orang sakit memerlukan kasih, perhatian, kehangatan, pendekatan manusiawi dan adikodrati, yang dapat dan harus diberikan semua orang dekat, orangtua dan anak-anak, dokter dan perawat” (Declaratio de Euthanasia).

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish, Potomac Falls.

sumber : “Straight Answers: The Church's Teaching on Euthanasia” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”




Thursday, December 4, 2008

Musik menyenangkan dapat membantu jantung


Musik yang membangkitkan rasa senang meningkatkan fungsi pembuluh darah
oleh Daniel J DeNoon
Web MD health news
13 Nov 2008 – para peneliti menemukan bahwa musik yang menyenangkan dapat membantu jantung anda.
Penelitian ini dikemukakan oleh Michael Miller,MD, direktur kardiologi preventive di University of Maryland. Miller melaporkan penemuannya minggu ini dalam pertemuan tahunan American Heart Association di New Orleans.

10 relawan mengidentifikasi musik khas yang membuat mereka merasa senang. Sementara musik dimainkan , Miller dan rekan-rekannua menggunakan alat ultrasound untuk mengukur seberapa baik respon pembuluh darah tiap orang pada suatu kejadian peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ( disebabkan oleh peningkatan aliran tekanan darah)
Ketika mendengar musik menyenangkan , pembuluh darah para relawan berdilatasi sekitar 26% - suatu respon yang menyehatkan. Hal ini sama dengan magnitudo terhadap respon yang ditemukan setelah senam aerobik.
Tertawa juga meningkatkan aliran darah. Setelah mendengarkan suatu komedi, pembuluh darah para relawan berdilatasi sekitar 19%. hal in isama dengan efek tertawa yang ditemukan pada penelitian awal, dimana para relawan diobservasi melalui film kingpin.
Tetapi, musik memiliki efek buruk,juga. Mendengarkan musik yang membuat para relawan merasa cemas menyempitkan pembuluh darah sekitar 6 %.
“Hasil ini dimana musik diperdengarkan karena mereka menstimulasi siasat preventife lain yang kami dapat berinkorporasi dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membantu kesehatan jantung kita,”kata Miller dalam rilis berita.
Musik country membuat kebanyakan relawan merasa senang. Musik heavy metal membuat kebanyakan dari mereka merasa gelisah. Tetapi Miller mengatakan masalahnya bukan jenis musik, tetapi respon emosional individu terhadap musik itu.
Miller mengatakan bahwa pada 10 individu yang berbeda mungkin ditemukan tipe-tipe musik yang berbeda yang membuat mereka merasa senang – dan menyehatkan jantung.
Donatur dari penelitian ini bersumber dari American Heart Association , the Veterans Administration, dan National Institutes of Health.
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Wednesday, November 19, 2008

Kenali Gejala-Gejala Tb Paru

Hari pertama masuk RS lagi, ternyata dihadapkan sebagian besar dengan pasien TB paru. Kalau di rumah sakit saja banyak, kemungkinan yang belum berobat pasti beberapa kali lipatnya. Berhubung orang-orang tua terutama sekarang kalau ditanya tentang batuknya biasanya berkata bahwa cuma batuk biasa yang menyerang orang tua. Padahal , mungkin saja orang tua itu sudah terkena TB paru.

So, apa itu TB paru ?
TB paru adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Di negara lain juga bisa disebabkan oleh Micobacterium bovis dan africanum.

Kok, bisa kena TB paru ?
Seperti yang disebutkan, TB paru disebabkan oleh bakteri yang bernama micobacterium tuberculosis. Ada juga yang disebabkan oleh micobacterium bovis tetapi jarang terjadi. Penyebarannya melalui udara (droplet).Dapat juga melalui susu yang terkontaminasi dengan kuman TB.

Siapa saja yang bisa menderita TB ?
Dari anak-anak sampai yang sudah nenek-nenek bisa menderita TB. Hanya pada anak-anak gejalanya sedikit berbeda dengan orang dewasa.

Apa gejalanya ?
Gejala-gejala yang sering dialami penderita itu berupa
• Batuk lebih dari 2minggu
• Hemoptoe alias batuk bercampur dengan darah
• Sesak napas
• Anoreksia ( kurus )
• Malaise
• Demam ( 38oC )
• Keringat malam

Dokter bakal meriksa apa aja ?
Ada beberapa pemeriksaan yang pasti dokter lakukan (kalau instrumen menunjang) seperti :
- Periksa dahak – bakalan dilakukan 3 kali biasanya waktu datang, besoknya pas bangun pagi, dan saat mengantar sampelnya ke dokter.
- Periksa darah rutin – gak perlu takut yang diambil paling sekitar 10 cc
- Foto thoraks
- Dll – yang lain ini penunjang buat memastikan kalau emang penyakitnya itu TB kalau yang di atas belum bisa memastikannya misalnya BACTEC,PCR,ELISA.

Trus bisa sembuh gak ?
TB sangat bisa sembuh. Cuma pasiennya harus teratur minum obat. Kadang-kadang pasien malas dan lupa minum obat saking lamanya pengobatan yang minimal 6 bulan. Tapi, kalau mau sembuh harus minum obat sampai dinyatakan sembuh oleh dokter (bukan dukun). Yang pasti TB itu harus disembuhin.

Harus disembuhin ? Emangnya kalo gak disembuhin kenapa ?
Kalau gak disembuhin yach, pasti bakal tetap sakit, gak bisa kerja-kerja, gak bisa nyari duit, jadinya gak bisa makan ,trus ... . pokoknya panjang. Dari segi kesehatan, kalau pasien TB gak mau berobat, kumannya bisa menular ke orang lain yang masih sehat, trus sakit yang dulunya cuma TB paru bisa jadi bertambah dengan penyakit-penyakit yang lain karena daya tahan tubuh pasien yang menurun.

Mahal gak ?
Kalau soal mahal, gak tahu tapi sekarang kan orang-orang yang mau jadi bupati, gubernur dan presiden rata-rata pada berjanji mau gratisin biaya berobat. Pilih mereka trus kalau udah naik tanya kapan terealisasinya. Tapi, kalau calonnya gak naik, gakpapa, datang aja ke puskesmas, biayanya murah kok. Pemerintah kan maunya gak ada lagi yang sakit TB.

Di mana bisa dapetin informasi-informasi yang lebih lengkap ?
Bisa di internet, di puskesmas, rumah sakit, nanya-nanya kenalan dokter, buklet2 kesehatan, buku. Yang penting jangan nanya ke dukun, paling bakalan disembur-sembur.
Kalau di internet, boleh kunjungi alamat-alamat web ini
Dinkes |CDC |Wikipedia | Penyakit Menular | Infeksi |
Kalau mau nanya kirim aja lewat e-mail ini.



http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Friday, November 14, 2008

Denver

Koas anak pasti butuh mengukur dan menghitung ballard score, BB menurut Tb, BB menurut umur, dosis obat, imunisasi dll. di banding mau beli, mending download di sini. semua dalam bentuk jpg
ballard
BB menurut TB 1
BB menurut TB 2
BB menurut TB 3
BB menurut TB 4
BB menurut umur 1
BB menurut umur 2
BB menurut umur 3
BB menurut umur 4
EKG 1
EKG 2
Imunisasi 1
Imunisasi 2
LLA menurut TB 1
LLA menurut TB 2
Maturitas BBL
Obat 1
Obat 2
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Wednesday, November 12, 2008

Vitamin C dan E tidak menurunkan resiko jantung


Penelitian menunjukkan vitamin-vitamin tidak membantu mencegah serangan jantung dan strok.
Oleh : Salynn Boyles
Ulasan Louise Chang,MD
10 Nov 2008 – Sebuah penelitian selama delapan tahun melibatkan hampir 15.000 dokter gagal menunjukkan keuntungan penggunaan vitamin C dan E dalam pencegahan serangan jantung dan strok.
Penelitian baru ini mendukung penemuan sebelumnya dari percobaan-percobaan besar sebelumnya yang menunjukkan tidak ada keuntungan untuk vitamin E. Tetapi, penelitian ini adalah penelitian besar pertama yang menguji dampak suplemen vitamin C pada resiko kardiovaskuler.
”Kami tidak melihat efek baik vitamin E maupun C dalam penelitian terhadap pria dengan resiko rendah inisiasi penyakit kardiovaskuler,” ungkap Howard D.Sesso,ScD dari Boston Brigham and Women’ Hospital kepada webMD.
Satu dekade sebelumnya, ketika pendaftaran Physicians’ Health Study II terjadi, ketertarikan lebih melingkupi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E dan beta karoten.
Penelitian terhadap tikus memperkirakan bahwa antioksidan- antioksidan ini membantu melindungi dari penyakit kardiovaskuler dengan melambatkan pembentukan plak dalam arteri.
Tetapi penelitian baru-baru ini menguji suplemen antioksidan pada orang secara umum telah mengecewakan.
Penelitian baru ini dilansir tanggal 12 Nov pada The Journal of the American Medical Association. Sejumlah 1.641 dokter pria yang berusia 50 tahun atau lebih menggunakan 500 mg vitamin C dan placebo, 400 IU vitamin E dan placebo, kedua vitamin, atau kedua placebo setiap hari selama rata-rata 8 tahun.
Selama masa ini ada 1243 dikonformasii mengalami kejadian kardiovaskuler mayor.
Tidak vitamin, ataupun kombinasi keduanya ditemukan memiliki efek bermakna pada resiko serangan jantung, strok dan kejadian kardiovaskuler lain.
Peneliti ini memutuskan bahwa penemuan tidak mendukung penggunaan suplemen ini untuk mencegah penyakit kardiovaskuler pada pria paruh baya dan usia lanjut.
Penelitian pada wanita juga menunjukkan sedikit atau tidak ada keuntungan pada suplemen vitamin E.
Multivitamin dan Resiko Jantung
Sesso dan kolega terus mengamati pria dalam penelitian mereka yang menggunakan suplemen multivitamin.
“ Ini adalah penelitian satu-satunya yang saya tahu dari pengujian penggunaan multivitamin lebih dari satu dekade diamati,”katanya.
” Prevalensi penggunaan multivitamin sangat tinggi. Banyak orang, termasuk saya sendiri, menggunakannya tanpa memiliki bukti kuat nyata untuk waktu lama, percobaan klinik berskala besar untuk mendukung pernyataan keuntungan.”
Kardiologis Mayo Clinic Raymond Gibbons,MD mengatakan pasien ingin percaya bahwa vitamin dapat melindungi jantung mereka meskipun hanya sedikit bukti untuk mendukungnya.
Gibbons adalah mantan presiden dari American Heart Association


http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Monday, October 27, 2008

Down Syndrome

Translated by Attonk
Current Medical Diagnosis and treatment 2008
Dasar diagnosis
  • Bentuk muka tipikal(occiput datar,lipatan epikantus dan lidah lebar)
  • Retardasi mental
  • Penyakit jantung congenital (mis defek katub triventrikuler) pada 50% pasien.
  • Trisomy 21atau penyusunan kembali kromosom yang menyebabkan 3 tiruan dari suatu bagian lengan panjang kromosom 21.
Gambaran klinis
Tanda dan Gejala
Sindrom down biasanya didiagnosis pada saat kelahiran berdasarkan roman muka yang khas, hipotoni, dan lipatan palmar tunggal. Beberapa masalah serius yang dapat terjadi pada kelahiran atau berkembang pada masa kanak awal termasuk atresia duodenalis, penyakit jantung congenital (terutama defek kanal atrioventrikuler) dan leukemia. Anomali usus dan jantung biasanya berespon terhadap pembedahan, dan leukemia biasanya berespon terhadap penanganan konservatif. Inteligensi bervariasi dalam spektrum yang luas. Banyak orang dengan sindrom down dapat bekerja dengan baik di tempat-tempat kerja yang menaungi dan kelompok-kelompok,tetapi sedikit pencapaian kebebasan penuh pada remaja. Demensia yang menyerupai alzheimer biasanya menjadi bukti pada decade keempat atau kelima dan jumlah yang bertahan setelah remaja menurun tingkat harapan hidupnya. Penelitian menempatkan resiko dan keparahan demensia pada hubungannya dengan apolipoprotein genotip E yang masih menimbulkan prokontra.



Pemeriksaan laboratorium
Analisa sitogenetik sebaiknya selalu dilakukan meskipun kebanyakan pasien memiliki trisomi kromosom 21 untuk mendeteksi gangguan translokasi , pasien mungkin memiliki salah satu orang tua dengan translokasi stabil, dan akan ada resiko rekuren substansial dari sindrom Down pada keturunan yang akan datang.
Pencegahan
Adanya fetus dengan sindrom Down dapat dideteksi pada awal trimester kedua melalui screening serum maternal untuk α-fetoprotein dan hormon tertentu (multiple marker screening) dan dengan mendeteksi peningkatan ketebalan dan ultrasound fetus. Resiko mengasuh anak yang menderita sindrom Down meningkat secara eksponensial dengan usia ibu saat konsepsi dan dimulai usia 35 tahun. Pada usia 45 tahun, ibu memiliki kemungkinan 40% memiliki anak yang menderita. Resiko dari keadaan lain yng berhubungan dengan trisomi juga meningkat, karena peningkatan predisposisi dari oosit tua untuk tidak memisah selama meiosis. Ada resiko kecil dari trisomi yang dikaitkan dengan peningkatan usia dari pihak ayah. Namun, laki-laki yang lebih tua memiliki suatu peningkatan resiko menjadi ayah dari anak dengan suatu keadaan dominan autosomal yang baru.
Terapi
Atresia duodenal sebaiknya diterapi secara bedah. Penyakit jantung konganital sebaiknya diterapi sama seperti pasien lain. Tidak ada terapi kesehatan telah membuktikan efektivitas pada kemampuan intelektual.
Andriolo RB et al. Aerobic exercise training programmes for improving physical and psychosocial health in adults with Down syndrome. Cochrane Database Syst Rev. 2005 Jul 20;(3):CD005176. [PMID: 16034968]
Cohen WI. Current dilemmas in Down syndrome clinical care: celiac disease, thyroid disorders, and atlanto-axial instability. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):141–8. [PMID: 16838307]
Dierssen M et al. Pitfalls and hopes in Down syndrome therapeutic approaches: in the search for evidence-based treatments. Behav Genet. 2006 May;36(3):454–68. [PMID: 16520905]
Dixon N et al. Clinical manifestations of hematologic and oncologic disorders in patients with Down syndrome. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):149–57. [PMID: 17048354]
Galley R. Medical management of the adult patient with Down syndrome. JAAPA. 2005 Apr;18(4):45–6, 48, 51–2. [PMID: 15859488]
Reddy UM. Incorporating first-trimester Down syndrome studies into prenatal screening: executive summary of the National Institute of Child Health and Human Development workshop. Obstet Gynecol. 2006 Jan;107(1):167–73. [PMID: 16394055]
Tolmie JL et al. Down syndrome and other autosomal trisomies. In: Emery and Rimoin's Principles and Practice of Medical Genetics, 5th ed. Rimoin DL et al (editors). Churchill Livingstone, 2007.
Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

TB tulang dan sendi

Translated by Attonk

Current Medical Diagnosis and Treatment 2008 / Musculoskeletal disorder

Dasar-dasar diagnosis

· Penyakit pada anak , orang dewasa, dan yang terinfeksi HIV

· Pada kebanyakan kasus, lesi tunggal tulang atau sendi terinfeksi

· Tulang belakang – terutama toraks bagian bawah – atau lutut sering menjadi lokasi.

· Gambaran radigraf abnormal pada kurang dari ½ jumlah pasien.

Pertimbangan penting

Kebanyakan infeksi tuberkulosis di Amerika Serikat disebabkan oleh strain Mycobacterium tuberculosis. Infeksi pada sistem muskuloskeletal disebabkan oleh penyebaran hematogen dari lesi primer pada traktus respiratorius ; dapat timbul segera setelah lesi primer atau mungkin bertahun-tahun sebagai reaktivasi penyakit. Tuberkulosis pada tulang dan sendi terjadi pada 1 – 3 % pasien dengan tuberkulosis ekstraparu. Tuberkulosis pada vertebra lumbal atau thoraks (penyakit Pott) merupakan tempat paling sering pada tulang yang terinfeksi dan biasanya terjadi tanpa infeksi ekstraspinal. Penyakit ini terjadi pada anak-anak di negara berkembang dan pada lanjut usia di Amerika Serikat. Jumlah osteomielitis kira-kira 20% dari tuberkulosis muskuloskeletal dan paling sering berdampak pada tulang paha dan tibia. Tuberkulosis pada sendi perifer hampir selalu monoarthrikuler, dengan lutut sebagai sendi paling sering.






Gambaran klinik

Tanda dan gejala

Onset gejala umumnya tersembunyi dan tidak diikuti oleh manifestasi umum seperti demam, berkeringat, keracunan, atau kelemahan. Nyeri dapat ringap pada onset dan umumnya memburuk pada malam hari, dan dapat diikuti oleh kekakuan. Pada proses perjalanan penyakit, keterbatasan pergerakan sendi menjadi prominen karena kontraktur otot dan kerusakan sendi. Lulut sering menjadi prominen sebab kontraktur otot dan kerusakan sendi. Sendi merupakan sendi perifer paling sering. Gejala dari tuberkulosis paru mungkin masih ada.

Penemuan lokal selama stadium awal mungkin terbatas pada nyeri, bengkak jaringan lunak, efusi sendi, dan peningkatan temperatur kulit daerah yang dilingkupi. Seperti perjalanan penyakit yang tidak diterapi, atrofi otot dan deformitas dapat terjadi. Bentukan abses dengan drainase spontan ke luar menyebabkan bentukan sinus. Kerusakan progresif tulang belakng dapat menyebabkan benjolan tulang belakang atau gibbus, terutama pada regio torakolumbal.

Penemuan laboratorium

Dasar diagnosis yang tepat dalam mendeteksi organisme tahan asam adalah dengan tes kultur atau polymerase chain reaction (PCR) dari cairan sendi, pus, atau spesimen jaringan. Biopsi pada lesi tulang, sinovial, atau limfonodus regional dapat menunjukan kekhasan gambaran histopatologi dari nekrosis dan sel raksasa.

Radiologi

Ada periode laten antara onset gejala dengan penemuan positif pada gambaran radiologi. Perubahan paling awal dari TB arthritis adaah pembengkakan sendi dan distensi kapsul oleh efusi. Sesudah itu, atrofi tulang menyebabkan penipisan pola trabekular, mendekati korteks, dan penebalan kanal meduler. Seperti pada progres penyakit sendi, kerusakan kartolago , dalam tulang belakang dan sendi perifer, ditandai dengan batasan sendi dengan erosi fokal dari permukaan sendi, terutama pada tepi.dimana lesi dibatasi dengan tulang, khususnya dalam bagian cancellous dari metafisis, radiografi dapat memperlihatkan kista tunggal atau multiokuler dikelilingi oleh tulang sklerotik. Pada tuberkulosis tulang belakang, CT scan atau MRI membantu menunjukkan perluasan infeksi padda jaringan lunak paraspinal ( mis.abses psoas, perluasan ke epidural).

Gambaran radiologi pada kasus tuberkulosis pada cairan sinovial sendi. A. Hematogenous tuberculosis dari sendi lutut pada laki-laki 22 tahun. Adanya efusi dan pengentalan cairan sinovial, dan kartilago sendi telah diterapi. B. Tuberkulosis pada sendi subtalar pada laki-laki 28 tahun yang ringan. C. Kerusakan total tuberkulosis pada sendi panggul pada pasien laki-laki usia lanjut. (Diproduksi dengan isin dari Petty W. Faigenbaum MC) Churcill Livingstone,1983.

Diagnosis Banding

Tuberkulosis pada system musculoskeletal harus dibandingkan dengan semua infeksi subakut dan kronik, rematoid arthritis, gout, dan kadang dysplasia osseus. Pada tulang belakang, tumor metastasis dapat dicurigai.

Komplikasi

Kerusakan tulang atau sendi dapat terjadi dalam beberapa minggu atau bulan jika terapi yang tidak adekuat diberikan. Deformitas berkaitan dengan kerusakan sendi, bentukan abses yang meluas ke tempat yang berdekatan dengan jaringan lunak, dan bentukan sinus sering ditemukan. Paraplegia merupakan komplikasi paling serius dari tuberkulosis tulang belakang. Sebagai bentuk penyembuhan lesi sendi yang hebat, ankilosis tulang atau jaringan fibrosa spontan akan terjadi.

Penatalaksanaan

Penilaian umum

Pengobatan umum khususnya penting dalam pemanjangan recumbency sangan dibutuhkan, perawat terampil harus diberikan. (lihat juga Infectious Diseases: Bacterial & Chlamydial.)

Kemoterapi

Lihat pulmonologi. Pengobatan dengan kemoterapi tanpa operasi dapat dilakukan pada kebanyakan kasus, sekalipun penyakit yang luas.

Penilaian bedah

Pada infeksi akut dimana sinovitis merupakan gambaran predominan, penatalaksanaan dapat konservatif, setidaknya terapi inisial. Imobilisasi dengan splint atau plester , aspirasi, dan kemoterapi dapat mencukupi kontrol terhadap infeksi. Sinovektomi dapat bermanfaat pada sebagian kecil lesi hepertropis akut yang meliputi sarung tendon, bursa , dan sendi.

Franco-Paredes C et al. The ever-expanding association between rheumatologic diseases and tuberculosis. Am J Med. 2006 Jun;119(6):470–7. [PMID: 16750957]

Gardam M et al. Mycobacterial osteomyelitis and arthritis. Infect Dis Clin North Am. 2005 Dec;19(4):819–30. [PMID: 16297734]

Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Henoch-Schönlein Purpura


Translated by Attonk

Current Medical Diagnosis and Treatment 2008

Henoch-Schönlein purpura, vaskulitis sistemik paling sering pada anak-anak, dan muncul juga pada orang dewasa. Gambaran tipikal berupa purpura teraba, nyeri abdomen, arthritis, dan hematuria. Gambaran patologi berupa vaskulitis leukopsitoplastik dengan deposit IgA. Penyebabnya belum diketahui.



Lesi purpura pada kulit khas berlokasi di ekstremitas bawah dan dapat pula ditemukan pada tangan,lengan, badan, dan bokong. Gejala sendi ditemukan pada kebanyakan pasien, lutut dan pergelangan kaki merupakan daerah tersering yang diserang. Nyeri abdomen merupakan gambaran sekunder dari vaskulitis pada traktus intestinal sering diasosiasikan dengan perdarahan gastrointestinal. Sinyal hematuria menandakan adanya lesi ginjal yang biasanya reversible, meskipun adakalanya dapat berlanjut menjadi insufisiensi ginjal. Anak-anak lebih sering dijumpai terserang penyakit ini dan menyebabkan vaskulitis gastrointestinal lebih hebat, sementara orang dewasa lebih sering menderita penyakit ginjal. Biopsy ginjal menyingkirkan glomerulonefritis segmental dengan deposit IgA.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, berlangsung 1 -6 minggu, dan mereda tanpa gehala sisa jiga keterlibatan ginjal tidak parah. Bagian kronik dengan penyakit kulit persisten atau intermitten lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Keterlibatan kostikosteroid masih merupakan controversial. Pada anak, prednisone (1 mg/kg/hr oral) dapat bermanfaat pada mereka yang bergejala ekstrarenal hebat dan dengan bukti adanya penyakit ginjal. Kelebihan terapi obat-obatan hemat steroid seperti azathioprine dan mycophenolate mofenil – sering digunakan pada penyakit ginjal – belum diketahui.

Coppo R et al. Predictors of outcome in Henoch-Schonlein nephritis in children and adults. Am J Kidney Dis. 2006 Jun; 47(6):993–1003. [PMID: 16731294]

Ronkainen J et al. Early prednisone therapy in Henoch-Schonlein purpura: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. J Pediatr. 2006 Aug;149(2):241–7. [PMID: 16887443]


Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih

http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Wednesday, October 22, 2008

Gangguan Jiwa : Pendekatan Awam

Beberapa waktu yang lalu dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Depkes melaporkan hasil hasil survey kesehatan mental rumah tangga (SKMRT) tahun 1995 yang menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia yaitu 185 kasus per 1.000 penduduk. Hasil SKMRT juga menyebutkan, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per 1.000 penduduk, sementara pada rentang usia 5 - 14 tahun ditemukan 104 kasus per 1.000 penduduk.
Dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ III , konsep gangguan jiwa adalah pola atau perilaku ,atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna , dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress ) atau hendaya (impairment/disability ) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Disfungsi yang dimaksud adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik, atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak dalam hubungan antara orang itu dengan masyarakat.
Dari konsep di atas, ada 3 hal penting dalam menentukan seseorang mengalami gangguan jiwa yaitu : adanya gejala klinis yang bermakna, menimbulkan penderitaan , dan menimbulkan disabilitas dalam aktivitas sehari-hari.



Kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara, dimana proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi memberi dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Sementara tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan tersebut.
Masalah kesehatan jiwa sangat mempengaruhi produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat yang tidak mungkin ditanggulangi oleh sektor kesehatan saja. Mutu SDM tidak dapat diperbaiki hanya dengan pemberian gizi seimbang namun juga perlu memperhatikan 3 aspek dasar yaitu fisik/jasmani (organo biologis), mental-emosional/jiwa (psikoedukatif), dan sosial-budaya/lingkungan (sosiokultural).
Kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara termasuk di Indonesia, dimana proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyrakat. Sementara tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan tersebut.
Kejadian-kejadian tersebut seluruhnya dilatarbelakangi oleh aspek-aspek kejiwaan seperti agresifitas, emosi yang tidak terkendali, ketidakmatangan kepribadian, depresi karena tekanan kehidupan, tingkat kecurigaan yang meningkat, dan persaingan yang tidak sehat. Kadangkala hal-hal yang dianggap sepele dapat menyebabkan gangguan jiwa, misalnya hubungan keluarga yang kurang baik, status ekonomi yang memburuk, dan lain sebagainya.
Gangguan kesehatan jiwa, bukan hanya “psikotik” saja tetapi sangat luas mulai yang sangat ringan yang tidak memerlukan perawatan khusus seperti kecemasan dan depresi, ketagihan NAPZA, alkohol rokok, kepikunan pada orang tua, sampai kepada yang sangat berat seperti skizophrenia. Tidak semua kecemasan pula merupakan gangguan jiwa, ada pula kecemasan yang wajar misalnya saa t menghadapi ujian.
Gangguan jiwa walaupun tidak langsung menyebabkan kematian, namun akan menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu dan beban berat bagi keluarga, baik mental maupun materi karena penderita menjadi kronis dan tidak lagi produktif.
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Thursday, September 11, 2008

Sjögren's Syndrome


Terjemahan bebas by Attonk

Sumber : Current Medical and Treatment 2008

Dasar-dasar diagnosis

· 90% pasien wanita ; usia rata-rata 50 tahun

· Gambaran utama berupa mata dan mulut kering (komponen sicca) ; terjadi sendiri-sendiri atau berksaitan dengan rhematiod arthritis atau penyakit jaringan konektif lain

· Munculnya faktor rematoid dan antibodi lain

· Peningkatan insiden limfoma

Pertimbangan umum

Sjögren's Syndrome, suatu penyakit autoimun disebabkan oleh disfungsi glandula eksokrin pada banyak tempat di tubuh. Dicirikan oleh kekeringan pada mata, mulut, dan bagian lain yang ditutupi oleh membran mukosa dan sering dikaitkan dengan penyakit rematik, terutama rhematoid arthritis. Gangguan ini predominan pada wanita dengan perbandingan 9 : 1 , dengan tingkat insidensi tertinggi pada usia antara 40 dan 60 tahun.

Gangguan Sjögren's Syndrome sering dikaitkan dengan rhematiod arthritis, SLE, sirosis empedu primer, scleroderma, polimiositis, thiroiditis hashimoo, poliartritis, dan fibrosis paru interstisial. Ketika ditemukan Sjögren's Syndrome tanpa rheumatoid arthritis, ditemukan antigen HLA-DR2 dan –DR3 dengan peningkatan kejadian.


http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

Gambaran klinik

Gejala dan tanda

Keratokonjungtivitis sicca akibat produksi air mata indadekuat yang disebabkan oleh infiltrasi limfosit dan sel plasma pada glandula lakrimalis. Gejala pada mata biasanya ringan. Rasa terbakar, gatal dan sensasi adanya benda asing atau rasa berpasir pada mata sering terjadi. Pada beberapa pasien, gejala awal berupa inabilitas untuk mentoleransi penggunaan lensa kontak. Banyak pasien dengan tingkat kekeringan bola mata lebih mem memperhatikan sekresi ...... pada mata mereka, terutama pada pagi hari. Fotofobia dapat menjadi tanda adanya ulserasi kornea akibat kekeringan yang hebat. Pada kebanyakan pasien , gejala mulut kering (xerostomia) mendominasi mata kering. Pasien sering mengeluhkan sensasi ”cotton mouth” dan kesulitan menelan makanan , terutama makanan kering seperti biskuit, kecuali bola mereka membasahinya dengan cairan. Mulut kering persisten menyebabkan kebanyakan pasien membawa berbotol-botol air atau minuman yang dapat mereka minum sedikit demi sedikit. Sedikit pasien dengan xerostomia hebat mengalami kesulitan berbicara. Xerostomia persisten sering menyebabkan karies gigi yang berlarut-larut ; karies pada garis gusi sangat memungkinkan mengarah pada Sjögren's syndrome. Beberapa pasien sangat bermasalah pada kehilangan selera makan dan fungsi penciuman. Pembesaran kelenjar parotis, yang kronik atau berulang, berkembang pada sepertiga jumlah pasien. Pengeringan dapat meliputi hidung, tenggorokan, laring, bronkus, vagina dan kulit.

Gejala sistemik termasuk disfagia, vaskulitis, pleuritis, penyakit obstruksi paru ( pada pasien yang tidak merokok) , disfungsi neuropsikiatri (lebih sering berupa neuropati perifer), dan pankreatitis ; semuanya dapat dikaitkan dengan penyakit yang dicantumkan di atas. Asidosis tubulus ginjal (tipe I, distal) terjadi pada 20% pasien. Nefritis interstisial kronnik, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dapat ditemukan. Lesi glomerulus jarang diobservasi dapat menjadi gejala sekunder yang dikaitkan dengan krioglobulinemia.

Pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium termasuk anemia ringan, leukopenia, dan eusinofilia. Hipergammaglobulinemia poliklonal , hasil positif faktor rematoid (70%) dan antibodi antinuklear (95%) sering ditemukan. Antibodi yaang melawan antigen sitoplasma SS-A dan SS-B (disebut juga Ro dan La) sering ditemukan pada Sjögren's syndrome dan memberikan korelasi dengan adanya manifestasi extraglandular (tabel 20-10 dan 19-2). Autoimun yang dikaitkan dengan tiroid sering ditemukan pada pasien Sjögren's syndrome.

Manfaat test diagnostik mata termasuk tes Schimer, yang mengukur kuantitas sekresi air mata. Biopsi bibir, prosedur sederhana , merupakan teknik spesifik satu-satunya dengan resiko rendah ; jika fokus limfoma ditemukan pada glandula salivatorius aksesoris, diagnosis dapat ditegakkan, biopsi glandula parotis seharusnya disarankan pada gambaran atipik seperti pembesaran glandula unilateral.

Penatalaksanaan dan prognosis

Penatalaksanaan bersifat simptomatik dan suportif. Air mata buatan sering diberikan akan mengeliminasi gejala pada bola mata dan mencegah pengeringan lebih jauh. Mulut sebaiknya diberi lubrikasi. Mengisap air lebih sering atau menggunakan permen karet non gula dan permen padat biasanya menghilangkan gejala mulut kering. Pilocarpin (5 mg peroral 4 kali sehari) dan derifat asetilkolin cevimeline (30mg peroral 3 kali sehari) dapat memperbaiki gejala xerostomia. Obat-obatan atropin dan dekongestan mengurangi sekresi salivasi dan sebaiknya dihindari. Program higienitas mulut, termasuk terapi fluorida, penting dalam melindungi gigi. Jika ada kaitan dengan penyakit rematik, terapi sistemik tidak akan mengubah gambaran dari Sjögren's syndrome.

Meskipun Sjögren's syndrome dapat dikompromi pada kualitas hidup pasien dengan baik, penyakit ini biasanya konsisten selama masa hidup. Prognosis buruk dipengaruhi terutama oleh adanya gejala sistemik yang dikaitkan dengan gangguan yang mendasari, perkembangan pada pasien vaskulitis limfositik, adanya neuropati perifer yang sangat nyeri, dan komplikasi (pada minoritas pasien) limfoma. Pasien (3-10 % dari total populasi Sjögren's syndrome) pada resiko besar untuk perkembangan limfoma dengan disfungsi eksokrin hebat, tanda pembesaran glandula parotis, splenomegali, vaskulitis,, neuropati perifer, anemia dan krioglobulinemia monoklonal.

Brito-Zeron P et al. Circulating monoclonal immunoglobulins in Sjögren syndrome: prevalence and clinical significance in 237 patients. Medicine (Baltimore). 2005 Mar;84(2):90–7. [PMID: 15758838]

Goransson LG et al. Peripheral neuropathy in primary Sjögren syndrome: a population-based study. Arch Neurol. 2006 Nov;63(11):1612–5. [PMID: 17101831]

Ono M et al. Therapeutic effect of cevimeline on dry eye in patients with Sjögren's syndrome: a randomized, double-blind clinical study. Am J Ophthalmol. 2004 Jul;138(1):6–17. [PMID: 15234277]

Ramos-Casals M et al. Cutaneous vasculitis in primary Sjögren syndrome: classification and clinical significance of 52 patients. Medicine (Baltimore). 2004 Mar;83(2):96–106. [PMID: 15028963]