Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts

Thursday, February 26, 2009

Amerika Serikat telah menembus 1 juta kasus AIDS

CDC mengatakan bahwa lebih dari setengah kasus baru HIV/AIDS merupakan ras AfroAmerika

Statistik terbaru CDC mengungkapkan bahwa pasien AIDS di Amerika Serikat telah mencapai 1 juta orang.
Pada tahun 2007, ada 455.636 warga Amerika hidup dengan AIDS. Di 34 negara bagian yang melaporkan kasus infeksi HIV, ada 571,378 hidup dengan HIV atau AIDS pada akhir tahun 2007.
Beberapa statistic dari laporan tahunan CDC :
•Wanita menyumbang 27% dari kasus orang dewasa dan remaja yang didiagnosis AIDS pada tahun 2007
•Sejak 2003 hingga 2007, mortalitas AIDS pada orang Amerika menurun 17%
•Dari pria yang hidup dengan AIDS atau HIV, 64% terinfeksi melalui hubungan seksual homoseksual
•40% orang yang hidup dengan AIDS berada di bagian Selatan, 29% di Timur Laut, 20% di Barat, dan 11% di Midwest.

Data ini dapat ditemukan dalam laporan tahunan Surveilen HIV/AIDS CDC








[get this widget]

Thursday, December 4, 2008

Musik menyenangkan dapat membantu jantung


Musik yang membangkitkan rasa senang meningkatkan fungsi pembuluh darah
oleh Daniel J DeNoon
Web MD health news
13 Nov 2008 – para peneliti menemukan bahwa musik yang menyenangkan dapat membantu jantung anda.
Penelitian ini dikemukakan oleh Michael Miller,MD, direktur kardiologi preventive di University of Maryland. Miller melaporkan penemuannya minggu ini dalam pertemuan tahunan American Heart Association di New Orleans.

10 relawan mengidentifikasi musik khas yang membuat mereka merasa senang. Sementara musik dimainkan , Miller dan rekan-rekannua menggunakan alat ultrasound untuk mengukur seberapa baik respon pembuluh darah tiap orang pada suatu kejadian peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ( disebabkan oleh peningkatan aliran tekanan darah)
Ketika mendengar musik menyenangkan , pembuluh darah para relawan berdilatasi sekitar 26% - suatu respon yang menyehatkan. Hal ini sama dengan magnitudo terhadap respon yang ditemukan setelah senam aerobik.
Tertawa juga meningkatkan aliran darah. Setelah mendengarkan suatu komedi, pembuluh darah para relawan berdilatasi sekitar 19%. hal in isama dengan efek tertawa yang ditemukan pada penelitian awal, dimana para relawan diobservasi melalui film kingpin.
Tetapi, musik memiliki efek buruk,juga. Mendengarkan musik yang membuat para relawan merasa cemas menyempitkan pembuluh darah sekitar 6 %.
“Hasil ini dimana musik diperdengarkan karena mereka menstimulasi siasat preventife lain yang kami dapat berinkorporasi dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membantu kesehatan jantung kita,”kata Miller dalam rilis berita.
Musik country membuat kebanyakan relawan merasa senang. Musik heavy metal membuat kebanyakan dari mereka merasa gelisah. Tetapi Miller mengatakan masalahnya bukan jenis musik, tetapi respon emosional individu terhadap musik itu.
Miller mengatakan bahwa pada 10 individu yang berbeda mungkin ditemukan tipe-tipe musik yang berbeda yang membuat mereka merasa senang – dan menyehatkan jantung.
Donatur dari penelitian ini bersumber dari American Heart Association , the Veterans Administration, dan National Institutes of Health.
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Wednesday, November 12, 2008

Vitamin C dan E tidak menurunkan resiko jantung


Penelitian menunjukkan vitamin-vitamin tidak membantu mencegah serangan jantung dan strok.
Oleh : Salynn Boyles
Ulasan Louise Chang,MD
10 Nov 2008 – Sebuah penelitian selama delapan tahun melibatkan hampir 15.000 dokter gagal menunjukkan keuntungan penggunaan vitamin C dan E dalam pencegahan serangan jantung dan strok.
Penelitian baru ini mendukung penemuan sebelumnya dari percobaan-percobaan besar sebelumnya yang menunjukkan tidak ada keuntungan untuk vitamin E. Tetapi, penelitian ini adalah penelitian besar pertama yang menguji dampak suplemen vitamin C pada resiko kardiovaskuler.
”Kami tidak melihat efek baik vitamin E maupun C dalam penelitian terhadap pria dengan resiko rendah inisiasi penyakit kardiovaskuler,” ungkap Howard D.Sesso,ScD dari Boston Brigham and Women’ Hospital kepada webMD.
Satu dekade sebelumnya, ketika pendaftaran Physicians’ Health Study II terjadi, ketertarikan lebih melingkupi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E dan beta karoten.
Penelitian terhadap tikus memperkirakan bahwa antioksidan- antioksidan ini membantu melindungi dari penyakit kardiovaskuler dengan melambatkan pembentukan plak dalam arteri.
Tetapi penelitian baru-baru ini menguji suplemen antioksidan pada orang secara umum telah mengecewakan.
Penelitian baru ini dilansir tanggal 12 Nov pada The Journal of the American Medical Association. Sejumlah 1.641 dokter pria yang berusia 50 tahun atau lebih menggunakan 500 mg vitamin C dan placebo, 400 IU vitamin E dan placebo, kedua vitamin, atau kedua placebo setiap hari selama rata-rata 8 tahun.
Selama masa ini ada 1243 dikonformasii mengalami kejadian kardiovaskuler mayor.
Tidak vitamin, ataupun kombinasi keduanya ditemukan memiliki efek bermakna pada resiko serangan jantung, strok dan kejadian kardiovaskuler lain.
Peneliti ini memutuskan bahwa penemuan tidak mendukung penggunaan suplemen ini untuk mencegah penyakit kardiovaskuler pada pria paruh baya dan usia lanjut.
Penelitian pada wanita juga menunjukkan sedikit atau tidak ada keuntungan pada suplemen vitamin E.
Multivitamin dan Resiko Jantung
Sesso dan kolega terus mengamati pria dalam penelitian mereka yang menggunakan suplemen multivitamin.
“ Ini adalah penelitian satu-satunya yang saya tahu dari pengujian penggunaan multivitamin lebih dari satu dekade diamati,”katanya.
” Prevalensi penggunaan multivitamin sangat tinggi. Banyak orang, termasuk saya sendiri, menggunakannya tanpa memiliki bukti kuat nyata untuk waktu lama, percobaan klinik berskala besar untuk mendukung pernyataan keuntungan.”
Kardiologis Mayo Clinic Raymond Gibbons,MD mengatakan pasien ingin percaya bahwa vitamin dapat melindungi jantung mereka meskipun hanya sedikit bukti untuk mendukungnya.
Gibbons adalah mantan presiden dari American Heart Association


http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Monday, October 27, 2008

Down Syndrome

Translated by Attonk
Current Medical Diagnosis and treatment 2008
Dasar diagnosis
  • Bentuk muka tipikal(occiput datar,lipatan epikantus dan lidah lebar)
  • Retardasi mental
  • Penyakit jantung congenital (mis defek katub triventrikuler) pada 50% pasien.
  • Trisomy 21atau penyusunan kembali kromosom yang menyebabkan 3 tiruan dari suatu bagian lengan panjang kromosom 21.
Gambaran klinis
Tanda dan Gejala
Sindrom down biasanya didiagnosis pada saat kelahiran berdasarkan roman muka yang khas, hipotoni, dan lipatan palmar tunggal. Beberapa masalah serius yang dapat terjadi pada kelahiran atau berkembang pada masa kanak awal termasuk atresia duodenalis, penyakit jantung congenital (terutama defek kanal atrioventrikuler) dan leukemia. Anomali usus dan jantung biasanya berespon terhadap pembedahan, dan leukemia biasanya berespon terhadap penanganan konservatif. Inteligensi bervariasi dalam spektrum yang luas. Banyak orang dengan sindrom down dapat bekerja dengan baik di tempat-tempat kerja yang menaungi dan kelompok-kelompok,tetapi sedikit pencapaian kebebasan penuh pada remaja. Demensia yang menyerupai alzheimer biasanya menjadi bukti pada decade keempat atau kelima dan jumlah yang bertahan setelah remaja menurun tingkat harapan hidupnya. Penelitian menempatkan resiko dan keparahan demensia pada hubungannya dengan apolipoprotein genotip E yang masih menimbulkan prokontra.



Pemeriksaan laboratorium
Analisa sitogenetik sebaiknya selalu dilakukan meskipun kebanyakan pasien memiliki trisomi kromosom 21 untuk mendeteksi gangguan translokasi , pasien mungkin memiliki salah satu orang tua dengan translokasi stabil, dan akan ada resiko rekuren substansial dari sindrom Down pada keturunan yang akan datang.
Pencegahan
Adanya fetus dengan sindrom Down dapat dideteksi pada awal trimester kedua melalui screening serum maternal untuk α-fetoprotein dan hormon tertentu (multiple marker screening) dan dengan mendeteksi peningkatan ketebalan dan ultrasound fetus. Resiko mengasuh anak yang menderita sindrom Down meningkat secara eksponensial dengan usia ibu saat konsepsi dan dimulai usia 35 tahun. Pada usia 45 tahun, ibu memiliki kemungkinan 40% memiliki anak yang menderita. Resiko dari keadaan lain yng berhubungan dengan trisomi juga meningkat, karena peningkatan predisposisi dari oosit tua untuk tidak memisah selama meiosis. Ada resiko kecil dari trisomi yang dikaitkan dengan peningkatan usia dari pihak ayah. Namun, laki-laki yang lebih tua memiliki suatu peningkatan resiko menjadi ayah dari anak dengan suatu keadaan dominan autosomal yang baru.
Terapi
Atresia duodenal sebaiknya diterapi secara bedah. Penyakit jantung konganital sebaiknya diterapi sama seperti pasien lain. Tidak ada terapi kesehatan telah membuktikan efektivitas pada kemampuan intelektual.
Andriolo RB et al. Aerobic exercise training programmes for improving physical and psychosocial health in adults with Down syndrome. Cochrane Database Syst Rev. 2005 Jul 20;(3):CD005176. [PMID: 16034968]
Cohen WI. Current dilemmas in Down syndrome clinical care: celiac disease, thyroid disorders, and atlanto-axial instability. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):141–8. [PMID: 16838307]
Dierssen M et al. Pitfalls and hopes in Down syndrome therapeutic approaches: in the search for evidence-based treatments. Behav Genet. 2006 May;36(3):454–68. [PMID: 16520905]
Dixon N et al. Clinical manifestations of hematologic and oncologic disorders in patients with Down syndrome. Am J Med Genet C Semin Med Genet. 2006 Aug 15;142(3):149–57. [PMID: 17048354]
Galley R. Medical management of the adult patient with Down syndrome. JAAPA. 2005 Apr;18(4):45–6, 48, 51–2. [PMID: 15859488]
Reddy UM. Incorporating first-trimester Down syndrome studies into prenatal screening: executive summary of the National Institute of Child Health and Human Development workshop. Obstet Gynecol. 2006 Jan;107(1):167–73. [PMID: 16394055]
Tolmie JL et al. Down syndrome and other autosomal trisomies. In: Emery and Rimoin's Principles and Practice of Medical Genetics, 5th ed. Rimoin DL et al (editors). Churchill Livingstone, 2007.
Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

TB tulang dan sendi

Translated by Attonk

Current Medical Diagnosis and Treatment 2008 / Musculoskeletal disorder

Dasar-dasar diagnosis

· Penyakit pada anak , orang dewasa, dan yang terinfeksi HIV

· Pada kebanyakan kasus, lesi tunggal tulang atau sendi terinfeksi

· Tulang belakang – terutama toraks bagian bawah – atau lutut sering menjadi lokasi.

· Gambaran radigraf abnormal pada kurang dari ½ jumlah pasien.

Pertimbangan penting

Kebanyakan infeksi tuberkulosis di Amerika Serikat disebabkan oleh strain Mycobacterium tuberculosis. Infeksi pada sistem muskuloskeletal disebabkan oleh penyebaran hematogen dari lesi primer pada traktus respiratorius ; dapat timbul segera setelah lesi primer atau mungkin bertahun-tahun sebagai reaktivasi penyakit. Tuberkulosis pada tulang dan sendi terjadi pada 1 – 3 % pasien dengan tuberkulosis ekstraparu. Tuberkulosis pada vertebra lumbal atau thoraks (penyakit Pott) merupakan tempat paling sering pada tulang yang terinfeksi dan biasanya terjadi tanpa infeksi ekstraspinal. Penyakit ini terjadi pada anak-anak di negara berkembang dan pada lanjut usia di Amerika Serikat. Jumlah osteomielitis kira-kira 20% dari tuberkulosis muskuloskeletal dan paling sering berdampak pada tulang paha dan tibia. Tuberkulosis pada sendi perifer hampir selalu monoarthrikuler, dengan lutut sebagai sendi paling sering.






Gambaran klinik

Tanda dan gejala

Onset gejala umumnya tersembunyi dan tidak diikuti oleh manifestasi umum seperti demam, berkeringat, keracunan, atau kelemahan. Nyeri dapat ringap pada onset dan umumnya memburuk pada malam hari, dan dapat diikuti oleh kekakuan. Pada proses perjalanan penyakit, keterbatasan pergerakan sendi menjadi prominen karena kontraktur otot dan kerusakan sendi. Lulut sering menjadi prominen sebab kontraktur otot dan kerusakan sendi. Sendi merupakan sendi perifer paling sering. Gejala dari tuberkulosis paru mungkin masih ada.

Penemuan lokal selama stadium awal mungkin terbatas pada nyeri, bengkak jaringan lunak, efusi sendi, dan peningkatan temperatur kulit daerah yang dilingkupi. Seperti perjalanan penyakit yang tidak diterapi, atrofi otot dan deformitas dapat terjadi. Bentukan abses dengan drainase spontan ke luar menyebabkan bentukan sinus. Kerusakan progresif tulang belakng dapat menyebabkan benjolan tulang belakang atau gibbus, terutama pada regio torakolumbal.

Penemuan laboratorium

Dasar diagnosis yang tepat dalam mendeteksi organisme tahan asam adalah dengan tes kultur atau polymerase chain reaction (PCR) dari cairan sendi, pus, atau spesimen jaringan. Biopsi pada lesi tulang, sinovial, atau limfonodus regional dapat menunjukan kekhasan gambaran histopatologi dari nekrosis dan sel raksasa.

Radiologi

Ada periode laten antara onset gejala dengan penemuan positif pada gambaran radiologi. Perubahan paling awal dari TB arthritis adaah pembengkakan sendi dan distensi kapsul oleh efusi. Sesudah itu, atrofi tulang menyebabkan penipisan pola trabekular, mendekati korteks, dan penebalan kanal meduler. Seperti pada progres penyakit sendi, kerusakan kartolago , dalam tulang belakang dan sendi perifer, ditandai dengan batasan sendi dengan erosi fokal dari permukaan sendi, terutama pada tepi.dimana lesi dibatasi dengan tulang, khususnya dalam bagian cancellous dari metafisis, radiografi dapat memperlihatkan kista tunggal atau multiokuler dikelilingi oleh tulang sklerotik. Pada tuberkulosis tulang belakang, CT scan atau MRI membantu menunjukkan perluasan infeksi padda jaringan lunak paraspinal ( mis.abses psoas, perluasan ke epidural).

Gambaran radiologi pada kasus tuberkulosis pada cairan sinovial sendi. A. Hematogenous tuberculosis dari sendi lutut pada laki-laki 22 tahun. Adanya efusi dan pengentalan cairan sinovial, dan kartilago sendi telah diterapi. B. Tuberkulosis pada sendi subtalar pada laki-laki 28 tahun yang ringan. C. Kerusakan total tuberkulosis pada sendi panggul pada pasien laki-laki usia lanjut. (Diproduksi dengan isin dari Petty W. Faigenbaum MC) Churcill Livingstone,1983.

Diagnosis Banding

Tuberkulosis pada system musculoskeletal harus dibandingkan dengan semua infeksi subakut dan kronik, rematoid arthritis, gout, dan kadang dysplasia osseus. Pada tulang belakang, tumor metastasis dapat dicurigai.

Komplikasi

Kerusakan tulang atau sendi dapat terjadi dalam beberapa minggu atau bulan jika terapi yang tidak adekuat diberikan. Deformitas berkaitan dengan kerusakan sendi, bentukan abses yang meluas ke tempat yang berdekatan dengan jaringan lunak, dan bentukan sinus sering ditemukan. Paraplegia merupakan komplikasi paling serius dari tuberkulosis tulang belakang. Sebagai bentuk penyembuhan lesi sendi yang hebat, ankilosis tulang atau jaringan fibrosa spontan akan terjadi.

Penatalaksanaan

Penilaian umum

Pengobatan umum khususnya penting dalam pemanjangan recumbency sangan dibutuhkan, perawat terampil harus diberikan. (lihat juga Infectious Diseases: Bacterial & Chlamydial.)

Kemoterapi

Lihat pulmonologi. Pengobatan dengan kemoterapi tanpa operasi dapat dilakukan pada kebanyakan kasus, sekalipun penyakit yang luas.

Penilaian bedah

Pada infeksi akut dimana sinovitis merupakan gambaran predominan, penatalaksanaan dapat konservatif, setidaknya terapi inisial. Imobilisasi dengan splint atau plester , aspirasi, dan kemoterapi dapat mencukupi kontrol terhadap infeksi. Sinovektomi dapat bermanfaat pada sebagian kecil lesi hepertropis akut yang meliputi sarung tendon, bursa , dan sendi.

Franco-Paredes C et al. The ever-expanding association between rheumatologic diseases and tuberculosis. Am J Med. 2006 Jun;119(6):470–7. [PMID: 16750957]

Gardam M et al. Mycobacterial osteomyelitis and arthritis. Infect Dis Clin North Am. 2005 Dec;19(4):819–30. [PMID: 16297734]

Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih
http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Henoch-Schönlein Purpura


Translated by Attonk

Current Medical Diagnosis and Treatment 2008

Henoch-Schönlein purpura, vaskulitis sistemik paling sering pada anak-anak, dan muncul juga pada orang dewasa. Gambaran tipikal berupa purpura teraba, nyeri abdomen, arthritis, dan hematuria. Gambaran patologi berupa vaskulitis leukopsitoplastik dengan deposit IgA. Penyebabnya belum diketahui.



Lesi purpura pada kulit khas berlokasi di ekstremitas bawah dan dapat pula ditemukan pada tangan,lengan, badan, dan bokong. Gejala sendi ditemukan pada kebanyakan pasien, lutut dan pergelangan kaki merupakan daerah tersering yang diserang. Nyeri abdomen merupakan gambaran sekunder dari vaskulitis pada traktus intestinal sering diasosiasikan dengan perdarahan gastrointestinal. Sinyal hematuria menandakan adanya lesi ginjal yang biasanya reversible, meskipun adakalanya dapat berlanjut menjadi insufisiensi ginjal. Anak-anak lebih sering dijumpai terserang penyakit ini dan menyebabkan vaskulitis gastrointestinal lebih hebat, sementara orang dewasa lebih sering menderita penyakit ginjal. Biopsy ginjal menyingkirkan glomerulonefritis segmental dengan deposit IgA.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, berlangsung 1 -6 minggu, dan mereda tanpa gehala sisa jiga keterlibatan ginjal tidak parah. Bagian kronik dengan penyakit kulit persisten atau intermitten lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Keterlibatan kostikosteroid masih merupakan controversial. Pada anak, prednisone (1 mg/kg/hr oral) dapat bermanfaat pada mereka yang bergejala ekstrarenal hebat dan dengan bukti adanya penyakit ginjal. Kelebihan terapi obat-obatan hemat steroid seperti azathioprine dan mycophenolate mofenil – sering digunakan pada penyakit ginjal – belum diketahui.

Coppo R et al. Predictors of outcome in Henoch-Schonlein nephritis in children and adults. Am J Kidney Dis. 2006 Jun; 47(6):993–1003. [PMID: 16731294]

Ronkainen J et al. Early prednisone therapy in Henoch-Schonlein purpura: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. J Pediatr. 2006 Aug;149(2):241–7. [PMID: 16887443]


Mohon maaf bila ada kesalahan menerjemahkan. Saya adalah manusia biasa yang masih penuh kekurangan dan masih terus belajar. Terima Kasih

http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk
http://klikrupiah.com/register.php?r=attonk

Thursday, September 11, 2008

Sjögren's Syndrome


Terjemahan bebas by Attonk

Sumber : Current Medical and Treatment 2008

Dasar-dasar diagnosis

· 90% pasien wanita ; usia rata-rata 50 tahun

· Gambaran utama berupa mata dan mulut kering (komponen sicca) ; terjadi sendiri-sendiri atau berksaitan dengan rhematiod arthritis atau penyakit jaringan konektif lain

· Munculnya faktor rematoid dan antibodi lain

· Peningkatan insiden limfoma

Pertimbangan umum

Sjögren's Syndrome, suatu penyakit autoimun disebabkan oleh disfungsi glandula eksokrin pada banyak tempat di tubuh. Dicirikan oleh kekeringan pada mata, mulut, dan bagian lain yang ditutupi oleh membran mukosa dan sering dikaitkan dengan penyakit rematik, terutama rhematoid arthritis. Gangguan ini predominan pada wanita dengan perbandingan 9 : 1 , dengan tingkat insidensi tertinggi pada usia antara 40 dan 60 tahun.

Gangguan Sjögren's Syndrome sering dikaitkan dengan rhematiod arthritis, SLE, sirosis empedu primer, scleroderma, polimiositis, thiroiditis hashimoo, poliartritis, dan fibrosis paru interstisial. Ketika ditemukan Sjögren's Syndrome tanpa rheumatoid arthritis, ditemukan antigen HLA-DR2 dan –DR3 dengan peningkatan kejadian.


http://uploads.bizhat.com/signup.php?ref=attonk

Gambaran klinik

Gejala dan tanda

Keratokonjungtivitis sicca akibat produksi air mata indadekuat yang disebabkan oleh infiltrasi limfosit dan sel plasma pada glandula lakrimalis. Gejala pada mata biasanya ringan. Rasa terbakar, gatal dan sensasi adanya benda asing atau rasa berpasir pada mata sering terjadi. Pada beberapa pasien, gejala awal berupa inabilitas untuk mentoleransi penggunaan lensa kontak. Banyak pasien dengan tingkat kekeringan bola mata lebih mem memperhatikan sekresi ...... pada mata mereka, terutama pada pagi hari. Fotofobia dapat menjadi tanda adanya ulserasi kornea akibat kekeringan yang hebat. Pada kebanyakan pasien , gejala mulut kering (xerostomia) mendominasi mata kering. Pasien sering mengeluhkan sensasi ”cotton mouth” dan kesulitan menelan makanan , terutama makanan kering seperti biskuit, kecuali bola mereka membasahinya dengan cairan. Mulut kering persisten menyebabkan kebanyakan pasien membawa berbotol-botol air atau minuman yang dapat mereka minum sedikit demi sedikit. Sedikit pasien dengan xerostomia hebat mengalami kesulitan berbicara. Xerostomia persisten sering menyebabkan karies gigi yang berlarut-larut ; karies pada garis gusi sangat memungkinkan mengarah pada Sjögren's syndrome. Beberapa pasien sangat bermasalah pada kehilangan selera makan dan fungsi penciuman. Pembesaran kelenjar parotis, yang kronik atau berulang, berkembang pada sepertiga jumlah pasien. Pengeringan dapat meliputi hidung, tenggorokan, laring, bronkus, vagina dan kulit.

Gejala sistemik termasuk disfagia, vaskulitis, pleuritis, penyakit obstruksi paru ( pada pasien yang tidak merokok) , disfungsi neuropsikiatri (lebih sering berupa neuropati perifer), dan pankreatitis ; semuanya dapat dikaitkan dengan penyakit yang dicantumkan di atas. Asidosis tubulus ginjal (tipe I, distal) terjadi pada 20% pasien. Nefritis interstisial kronnik, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dapat ditemukan. Lesi glomerulus jarang diobservasi dapat menjadi gejala sekunder yang dikaitkan dengan krioglobulinemia.

Pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium termasuk anemia ringan, leukopenia, dan eusinofilia. Hipergammaglobulinemia poliklonal , hasil positif faktor rematoid (70%) dan antibodi antinuklear (95%) sering ditemukan. Antibodi yaang melawan antigen sitoplasma SS-A dan SS-B (disebut juga Ro dan La) sering ditemukan pada Sjögren's syndrome dan memberikan korelasi dengan adanya manifestasi extraglandular (tabel 20-10 dan 19-2). Autoimun yang dikaitkan dengan tiroid sering ditemukan pada pasien Sjögren's syndrome.

Manfaat test diagnostik mata termasuk tes Schimer, yang mengukur kuantitas sekresi air mata. Biopsi bibir, prosedur sederhana , merupakan teknik spesifik satu-satunya dengan resiko rendah ; jika fokus limfoma ditemukan pada glandula salivatorius aksesoris, diagnosis dapat ditegakkan, biopsi glandula parotis seharusnya disarankan pada gambaran atipik seperti pembesaran glandula unilateral.

Penatalaksanaan dan prognosis

Penatalaksanaan bersifat simptomatik dan suportif. Air mata buatan sering diberikan akan mengeliminasi gejala pada bola mata dan mencegah pengeringan lebih jauh. Mulut sebaiknya diberi lubrikasi. Mengisap air lebih sering atau menggunakan permen karet non gula dan permen padat biasanya menghilangkan gejala mulut kering. Pilocarpin (5 mg peroral 4 kali sehari) dan derifat asetilkolin cevimeline (30mg peroral 3 kali sehari) dapat memperbaiki gejala xerostomia. Obat-obatan atropin dan dekongestan mengurangi sekresi salivasi dan sebaiknya dihindari. Program higienitas mulut, termasuk terapi fluorida, penting dalam melindungi gigi. Jika ada kaitan dengan penyakit rematik, terapi sistemik tidak akan mengubah gambaran dari Sjögren's syndrome.

Meskipun Sjögren's syndrome dapat dikompromi pada kualitas hidup pasien dengan baik, penyakit ini biasanya konsisten selama masa hidup. Prognosis buruk dipengaruhi terutama oleh adanya gejala sistemik yang dikaitkan dengan gangguan yang mendasari, perkembangan pada pasien vaskulitis limfositik, adanya neuropati perifer yang sangat nyeri, dan komplikasi (pada minoritas pasien) limfoma. Pasien (3-10 % dari total populasi Sjögren's syndrome) pada resiko besar untuk perkembangan limfoma dengan disfungsi eksokrin hebat, tanda pembesaran glandula parotis, splenomegali, vaskulitis,, neuropati perifer, anemia dan krioglobulinemia monoklonal.

Brito-Zeron P et al. Circulating monoclonal immunoglobulins in Sjögren syndrome: prevalence and clinical significance in 237 patients. Medicine (Baltimore). 2005 Mar;84(2):90–7. [PMID: 15758838]

Goransson LG et al. Peripheral neuropathy in primary Sjögren syndrome: a population-based study. Arch Neurol. 2006 Nov;63(11):1612–5. [PMID: 17101831]

Ono M et al. Therapeutic effect of cevimeline on dry eye in patients with Sjögren's syndrome: a randomized, double-blind clinical study. Am J Ophthalmol. 2004 Jul;138(1):6–17. [PMID: 15234277]

Ramos-Casals M et al. Cutaneous vasculitis in primary Sjögren syndrome: classification and clinical significance of 52 patients. Medicine (Baltimore). 2004 Mar;83(2):96–106. [PMID: 15028963]

Thursday, September 4, 2008

MITRAL STENOSIS





Translated from Harrison 17th : Chap 230 Valvular Heart Disease
By Attonk

Penyakit Katub Jantung : Pendahuluan
Pemeriksaan fisik pada evaluasi pasien dengan penyakit katub jantung juga disebutkan dalam bab e8 dan 220: elektrokardiografi (EKG) pada bab 221: ekokardiografi dan teknik radiologi noninvasif pada bab 222: dan kateterisasi jantung dan angiografi pada bab 223.
Mitral Stenosis
Etiologi dan Patologi
Demam rematik merupakan penyebab utama dari mitral stenosis (MS) (tabel 230-1). Penyebab lain diantaranya obstruksi aliran atrium kiri termasuk stenosis katub mitral kongenital, triatrium jantung, kalsifikasi gelang katub mitral dengan perluasan ke daun katub, lupus eritematosus sistemik, rematoid artritis, mixoma atrium kiri, dan infeksi endokarditis yang meluas. MS murni atau predominan kira-kira pada 40% pasien dengan penyakit jantung rematik dan riwayat demam rematik (bab 315). Pada pasien lain dengan penyakit jantung rematik, tingkat yang lebih rendah dari MS diikuti oleh mitral regurgitasi(MR) dan penyakit katub aorta. Dengan penurunan insiden penyakit demam rematik akut, terutama pada iklim seddang dan negara berkembang, insidensi MS telah berkurang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun demikian, MS masih merupakan masalah besar di negara berkembang, terutama di negara tropis dan subtropis. ( lihat ”Global Burden of Valvular Heart Disease”)


Tabel 230-1 Penyebab utama penyakit jantung katub

Lesi Katub

Etiologi

Mitral stenosis

Demam rematik

Kongenital

Kalsifikasi hebat gelang mitral

SLE, RA

Mitral regurgitasi

Akut

Endocarditis

Ruptur muskulus papilaris (post-MI)

Trauma

Ruptur korda (MVP, IE)

Kronik

Myxomatous (MVP)

Demam rematik

Endocarditis (penyembuhan)

Kalsifikasi gelang mitral

Kongenital (cleft, AV canal)

HOCM with SAM

Iskemia (LV remodeling)

Dilatasi kardiomiopati

Aortic atenosis

Kongenital (bicuspid, unicuspid)

Degenerasi kalsifikasi

Demam rematik

Aortic regurgitasi

Valvular

Kongenital (bicuspid)

Endocarditis

Demam rematik

Myxomatous (prolapse)

Traumatik

Syphilis

Ankylosing spondylitis

Root disease

DiseksiAortic

Degenerasi medial kistik

Marfan syndrome

Katub aorta bikuspid

Nonsyndromic familial aneurysm

Aortitis

Hipertensi

Tricuspid stenosis

Rheumatic

Kongenital

Tricuspid regurgitasi

Primer

Rheumatic

Endocarditis

Myxomatous (TVP)

Keganasan

Kongenital (Ebstein's)

Trauma

Papillary muscle injury (post-MI)

Sekunder

RV and tricuspid annular dilatation

Penyebab multiple dari pelebaran RV (cth. Hipertensi pulmonal lama)

Chronic RV apical pacing

Pulmonic stenosis

Kongenital

Keganasan

Pulmonic regurgitasi

Penyakit Katub

Kongenital

Postvalvotomy

Endocarditis

Pelebaran gelang katub

Hipertensi pulmonal

Dilatasi idiopatik

Marfan syndrome

Catatan : AV, atrioventricular; HOCM, hypertrophic obstructive cardiomyopathy; HTN, hypertension; IE, infective endocarditis; LV, left ventricular; MI, myocardial infarction; MVP, mitral valve prolapse; RA, rheumatoid arthritis; RV, right ventricular; SAM, systolic anterior motion of the anterior mitral valve leaflet; SLE, systemic lupus erythematosus; TVP, tricuspid valve prolapse.


Pada MS rematik, daun katub secara difus memadat oleh jaringan fibrosis dengan atau deposit kalsifikasi. Kommisura mitral bergabung, korda tendinea memendek, daun katub kaku, dan perubahan ini menyebabkan pembatasan pada katub apex yang berbentuk funnel-chest (mulut ikan). Meskipun penyebab utama dari mitra stenosis adalah rematik, perubahan lanjut mungkin proses nonspesifik dari trauma katub disebabkan oleh perubahan pola aliran oleh deformitas awal. Kalsifikasi pada mitral stenosis melumpuhkan daun katub dan lebih jauh penyempitan orifisium. Bentuk trombus dan embolisasi arteri dapat kemudian berkembang menjadi kalsifikasi katub, tetapi pada pasien dengan atrial fibrilasi (AF), trombus berkembang terutama dari dilatasi atrium kiri (LA), khususnya apendix atrium kiri.
Patofisiologi
Pada orang dewasa normal, luas lubang katub mitral sekitar 4-6cm2. Pada keadaan dengan obstruksi yang bermakna, seperti pada luas lubang yang berkurang hingga <~2 cm2, darah dapat mengalir dari LA ke ventrikel kiri (LV)hanya jika didorong oleh peningkatan abnormal tekanan atrioventrikuler(lih.gambar 223-2), tanda hemodinamik MS. Ketika pembukaan katub mitral menjadi <1cm2, sering diasosiasikan sebagai MS berat, tekanan LA ~25mmHg dibutuhkan untuk mempertahankan cardiac output (CO) normal. Peningkatan tekanan vena pulmonal dan arteri pulmonal menurunkan pemenuhan paru, yang ikut menyebabkan excertional dispnea. Dispnea biasanya dipresipitasi oleh peristiwa klinik yang meningkatkan aliran darah melewati katub mitral, menyebabkan peningkatan tekanan LA. Untuk menilai keparahan hemodinamik obstruksi, tekanan transvalvular dan kecepatan aliran harus diukur(bab 223). Yang terakhir selain bergantung pada CO,juga bergantung pada denyut jantung. Peningkatan denyut jantung memendekkan diastol lebih dibandingkan sistol dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melewati katub mitral. Kemudian, pada beberapa level CO, takikardi termasuk yang diasosiakan dengan AF meningkatkan tekanan transvalvular dan tekanan LA. Bentuk yang sama ditemukan pada patofisiologi stenosis trikuspid. Tekanan diastol LV dan fraksi ejeksi normal pada MS subklinik. Pada MS dan ritme sinus, elevasi tekanan LA dan PA berperan pada kontraksi atrium prominen (gelombang) dan tekanan bertahap menurun pada pembukaan katub mitral (turunnya y)(lih gbr 223-2). Pada MS hebat dan resistensi vaskuler pulmonal yang meningkat secara bermakna, tekanan arteri pulmonal(PAP) ditingkatkan pada istirahat dan meningkat selama latihan, sering menyebabkan peningkatan sekunder dari tekanan end-diastol dan volume ventrikel kanan. Cardiac output Pasien dengan MS ringan (lubang katub mitral 1,0cm2 – 1,5 cm2), CO normal atau jarang istirahat normal sedikit meningkat subnormal selama latihan. Pada pasien dengan MS hebat (luas katub <1,0cm2, khususnya pada resistensi vaskuler paru yang tampak meningkat, CO subnormal pada istirahat dan mungkin gagal meningkat atau menurun selama aktivitas. Hipertensi pulmonal Gambaran klinik dan hemodinamik dari MS sangat dipengaruhi oleh level PAP. Hipertensi pulmonal disebabkan oleh : (1)transmisi backward pasif dari peningkatan tekanan LA ; (2)konstriksi arteriol pulmonal, yang agaknya dicetuskan oleh hipertensi LA dan vena pulmonal (reaktif hipertensi pulmonal) ;(3) edema insterstisial pada dinding pembuluh darah kecil paru : dan (4) perubahan obliterasi organik pada dasar vaskuler paru. Hipertensi pulmonal hebat menyebabkan pelebaran RV; trikuspid regurgitasi sekunder (TR) dan regurgitasi pulmonal(PR), seperti pada gagal jantung kanan. Gejala Pada daerah beriklim sedang, periode laten antara inisial dan dan rematik karditis dan perjalanan gejala MS umumnya dalam 2 dekade; banyak pasien mulai mengalami disabilitas pada dekade keempat kehidupan. Studi menunjukkan sebelum perkembangan mitral valvotomi dikemukakan, seorang pasien MS mengalami gejala hebat, proggres penyakit hingga menyebabkan kematian dalam 2 – 5 tahun. Pasien dengan orifisium mitral yang cukup lebar dapat menyesuaikan aliran darah normal dengan hanya sedikit peningkatan tekanan LA, peningkatan tekanan ini menyebabkan dispnea dan batuk yang mungkin dipresipitasi oleh perubahan tiba-tiba dari denyut jantung, nilai volum, atau CO, seperti pada kerja berat, perangsangan, demam, anemia berat, AF paroxismal, dan takikardia lain, hubungan seks, kehamilan, dan tirotosikosis. Pada progress MS, lebih sedikit stress mempresipitasi dispnea, dan pasien mengalami keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari, serta ortopnea dan paroxysmal nocturnal dispnea meningkat. Perkembangan AF yang permanen sering ditandai oleh titik penting pada kegiatan pasien dan umumnya diasosiasikan dengan percepatan denyut sebagai progres gejala. Hemoptisis (bab 34) disebabkan oleh rupturnya vena pulmonal – bronkial dihubungkan dengan hipertensi vena pulmonal sekunder. Hal ini terjadi lebih sering pada pasien yang mengalami peningkatan tekanan AF tanpa ditandai peningkatan resistensi vaskuler paru dan jarang menyebabkan sesuatu yang fatal. Emboli paru rekuren (bab 256), kadang disertai infark, merupakan penyebab penting kematian dan kecacatan lanjut pada kasus MS. Infeksi paru seperti bronkitis, bronkopneumonia, dan pneumonia lobaris, biasanya berkomplikasi pada MS yang sukar disembuhkan, terutam selama musim dingin. Infeksi endokarditis (bab 118) jarang ditemukan pada MS tanpa gejala. Perubahan paru Sebagai tambahan pada penjelasan perubahan dasar vaskuler paru sebelumnya, kekakuan fibrosis dinding alveoli dan kapiler paru biasanya terjadi pada MS. Kapasitas vital, kapasitas total paru, kapasitas nafas maksinal dan pengambilan oksigen perunit pada pernafasan berkurang (bab 246). Daya tampung paru berkurang selama peningkatan tekanan kapiler paru selama kerja. Trombus dan Emboli Trombus dapat dibentuk di atrium kri, khususnya pada pelebaran appendix atrium pasien dengan MS. Emboli sistemik, dengan insiden sekitar 10-20% , terjadi lebih sering pada pasien dengan AF, pada pasien yang lebih tua, disertai dengan penurunan CO. Meskipun demikian , emboli sistemik mungkin merupakan gambaran yang tampak, sebaliknya pasien tanpa gejala hanya dengan MS ringan. Pemeriksaan Fisik (lihat juga Bab e8 dan 220) Isnpeksi dan palpasi Pada pasien dengan MS berat, dengan malar flush disertai muka kebiruan dan kurus. Pasien dengan sinus ritme dan hipertensi pulmonal berat atau diasosiasikan dengan trikuspid stenosis (TS), desakan vena sentral menunjukkan gelombang a prominen akibat sistolis atrium kanan yang meningkat. Tekanan arteri sistemik umumnya normal atau sedikit menurun. Suatu ketukan RV sepanjang tepi iga menandakan pelebaran ventrikel kanan. Trill diastolik dapat ditemukan pada apex jantung, dengan pasien pada posisi berbaring ke arah kiri. Auskultasi Bunyi jantung pertama (S1) biasanya keras dan sedikit terlambat. Komponen pulmonal pada bunyi jantung kedua (P2) split. Bunyi opening snap (OS) pada mitral stenosis lebih mudah didengar pada ekspirasi pada medial dan apeks jantung. Bunyi ini biasanya diikuti bunyi penutupan katub aorta (A2) setelah 0,05-0,12s. Selang antara A2 dan OS bervariasi dan berbanding terbalik dengan tingkat keparahan MS. Bunyi OS diikuti nada rendah, gemuruh, murmur diastol, didengar paling baik di apeks pasien dengan posisi berbaring miring ke kiri(lih. Gbr 220-4b). Hal ini diperkeras dengan latihan ringan (seperti beberapa sit up cepat) sebelum auskultasi. Umumnya, durasi murmur berkaitan dengan keparahan kekakuan pada pasien dengan CO yang terkontrol. Pada pasien dengan sinus ritme, murmur sering muncul kembali atau mengeras selama sistolik atrium (pengerasan presistol). Sistolik murmur grade I atau II/VI umumnya didengar pada apeks sepanjang linea sternalis kiri pada pasien dengan MS murni dan tidak menunjukkan MR yang signifikan. Hepatomegali, edema pretibial, ascites dan efusi pleura , khususnya pada pleura kanan timbul pada pasien dengan MS dan gagal ventrikel kanan. Lesi yang berhubungan Pada hipertensi pulmonal yang berat, murmur pansistol dihasilkan oleh TR fungsional yang didengar sepanjang linea sternalis kiri. Murmur ini umumnya didengar selama inspirasi dan berkurang selama ekspirasi penuh (Carvallo’s sign). Ketika CO menurun pada MS, auskultasi tipikal ditemukan, termasuk murmur diastol yang tidak ditemukan pada MS silent, tetapi muncul sebagai kompensasi. Graham steell murmur dari PR , murmur bernada tinggi ,diastol, decresendo sepanjang linea sternalis kiri, disebabkan oleh dilatasi cincin katub pulmonal. Murmur ini dibedakan dengan murmur pada umumnya yang disebabkan oleh aorta regurgitasi, dengan peningkatan intensitas pada inspirasi dan diikuti oleh bunyi keras dari P2. Pemeriksaan Laboratorium EKG Pada pasien MS dengan sinus ritme, gelombang P biasanya menandakan pelebaran LA (lih.gbr 221-8) berupa gelombang yang panjang dan membentuk puncak pada lead II dan tegak pada lead VI bila hipertensi pulmonal atau disertai TS dan pelebaran RA. Kompleks QRS biasanya normal. Namun, pada hipertensi pulmonal, deviasi aksis ke kanan dan hipertrofi RV sering ditemukan. Ekokardiogram (lih juga bab 222) Ekokardiografi transtoraks 2D (TTE) dengan bantuan radiologi Doppler memberikan informasi detail, termasuk perkiraan puncak transvalvular dan rata-rata puncak dan ukuran katub mitral, ada tidak dan tingkat keparahan MR yang mengikuti, tingkat restriksi daun katub dan kekakuannya, tingkat distorsi apparatus subvalvular, dan kelayakan anatomi untuk dilakukan percutaneous mitral balloon valvotomy (PMBV). Selain itu,TTE dapat memberikan penilaian ukuran ruang-ruang jantung, dan memperkirakan fungsi LV, tekanan arteri pulmonal(PAP) dan indikasi adanya lesi katub yang menyertai. Ekokardiografi transesophageal (TEE) memberikan gambaran superior dan dapat dilakukan bila TTE tidak akurat untuk memandu terapi. TEE khusunya diindikasikan untuk mengeliminasi adanya trombi atrium kiri sebelum PMBV. Foto thorax Perubahan awal berupa batas kiri atas dari siluet jantung menjadi lurus, arteri pulmonal prominen, dilatasi vena-vena pulmonal lobus superior, dan pergeseran bagian posterior dari esofagus akibat pelebaran atrium kiri. Adanya Kerley B line, terutama pada bagian bawah dan tengah paru akibat distensi septa interlobulerdan limfa disertai edema saat istirahat yang menandakan tekanan atrium kiri sekitar 20mmHg. Diagnosis Banding Seperti pada MS, MR yang bermakna juga dikaitkan dengan murmur diastol prominen pada apeks akibat peningkatan aliran darah, tetapi pada MR, murmur diastol dimulai sedikit lebih lambat dibandingkan dengan pasien MS, dan sering ditemukan gambaran yang jelas pembesaran ventrikel kiri. Murmur pansistolik apeks dengan grade sekurang-kurangnya III/VI sejelas S3 mengindikasikn MR yang bermakna. Murmur middiastolik apikal dihubungkan dengan AR berat (Austin Flint Murmur) dapat disalahartikan pada MS tetapi masih dapat dibedakan. TS jarang ditemukan pada MS, mungkin ditutupi oleh gambaran klinik dari MS. Defek septum atrium (bab 229) dapat diduga MS, pada kedua keadaan ditemukan gambaran klinik , EKG, dan pemeriksaan x-ray yang membuktikan pembesaran ventrikel kanan dan peningkatan vaskuler paru. Namun, adanya pembesaran atrium kiri dan garis Kerley B dan bunyi spit S2 mendukung defek septum dibandingkan MS. Mixoma trium kiri (Bab 233) dapat menyebbkan obstruksi pengosongan atrium kiri, menyebabkan dispnea, murmur diastolik, dan perubahan hemodinamik seperti pada MS. Namun, pasien dengan mixoma LA sering memberikan gambaran penyakit sistemik seperti penurunan berat badan, demam, anemia, emboli sistemik, dan peningkatan konsentrasi serum IgG dan IL-6. Pada auskultasi ditemukan perubahan dengan posisi tubuh. Diagnosis dapat ditegakkan dengan gambaran massa LA pada echo dengan TTE. Kateterisasi Jantung Kateterisasi jantung kanan dan kiri bermanfaat bila ditemukan adanya ketidaksesuaian antara gambaran klinik dan hasil TTE yang tidak memberikan solusi dengan TEE atau pemeriksaan ketidaksesuaian antara gambaran klinik dan hasil TTE yang tidak memberikan solusi dengan TEE atau pemeriksaan cardiac magnetic resonance (CMR). Perkembangan penelitian dengan CMR untuk menilai pasien dengan penyakit katub jantung dapat menurunkan penggunaan kateterisasi invasif. Kateterisasi berguna untuk menilai lesi yang berkaitan seperti stenosis aorta (AS) dan AR. Kateterisasi dan angiografi koroner jarang dibutuhan untuk memastikan tindakan bedah pada pasien muda, dengan ditemukannya obstruksi berat pada pemeriksaan klinik dan TTE. Pada pria dengan usia di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun, dan pasien muda dengan resiko koroner, khususnya iskemik miokard test positif, angigrafi koroner disarankan preoperasi untuk mendeteksi pasien dengan obstruksi koroner yang dapat dibypass pada waktu operasi. Computed tomographic angiography (CTA) (Bab. 222) digunakan di sejumlah pusat kesehatan untuk screening pasien preoperasi dengan penyakit arteri koroner dengan penyakit katub jantung. Kateterisasi dengan left ventrikulografi juga diindikasikan pada pasien yang mengalami PMBV atau riwayat operasi katub mitral dan kembali mengalami gejala serius, jika meragukan hasil TTE dan TEE .
Mitral Stenosis : Penatalaksanaan (Gbr 230-1)
Strategi penanganan pasien MS dengan gejala ringan. Masih kontroversi apakah pasien dengan MS berat (MVA <>60mmHg) dilakukan percutaneous mitral balloon valvotomy (PMBV) atau mitral valve replacement (MVR) untuk mencegah gagal ventrikel kanan. CXR, chest x-ray; ECG, electrocardiogram; echo, echocardiography; LA, left atrial; MR, mitral regurgitation; MVA, mitral valve area; MVG, mean mitral valve pressure gradient; NYHA, New York Heart Association; PASP, pulmonary artery systolic pressure; PAWP, pulmonary artery wedge pressure; 2D, 2-dimensional. (dari Bonow et al.)

Profilaksis penisilin terhadap infeksi streptococcus hemolytic group A(bab 315) untuk mencegah demam rematik penting untuk pasien MS yang beresiko (table 230-2).
Rekomendasi untuk profilaksis infeksi endokarditis telah diubah. Pada pasien simtomatik, beberapa kemajuan terjadi dengan restriksi pengambilan natrium dan dosis maintenance diuretik oral. Digitalis glycoside tidak terlalu bermanfaat pada pasien MS dengan sinus ritme, tetapi bermanfaat untuk menurunkan denyut ventrikel pada pasien yang disertai AF. Penghambat beta dan Penghambat jalur kalsium nondihydropyridine (cth verapamil atau diltiasem) juga bermanfaat pada keadaan ini. Warfarin untuk international normalized ration (INR) dari 2 – 3 harus diawasi ketat pada pasien MS dan AF dengan riwayat tromboemboli. Penggunaan rutin warfarin pada pasien dengan sinus ritme disertai pembesaran atrium kiri (maksimal dimensi >5,5cm) dengan atau tidak kontras echo spontan masih kontroversi.
Table 230-2 Medical Therapy of Valvular Heart Disease

Table 230-2 Medical Therapy of Valvular Heart Disease

Lesion

Symptom Control

Natural History

Mitral stenosis

Beta blockers, nondihydropyridine calcium channel blockers, or digoxin for rate control of AF; cardioversion for new-onset AF and HF; diuretics for HF

Warfarin for AF or thromboembolism; PCN for RF prophylaxis

Mitral regurgitation

Diuretics for HF

Warfarin for AF or thromboembolism

Vasodilators for acute MR

Vasodilators for HTN

Aortic stenosis

Diuretics for HF

No proven therapy

Aortic regurgitation

Diuretics and vasodilators for HF

Vasodilators for HTN


Catatan: Profilaksis antibiotic direkomendasikan berdasarkan pedoman American Heart Association. Untuk pasien dengan bentuk penyakit katub jantung, profilaksis diindikasikan terutama pada riwayat endokarditis. Hfmerupakan indikasi bedah atau penatalaksanaan perkutaneus, dan rekomendasi ini menyangkut terapi jangka pendek terutama untuk memperbaiki lesi katub. Pada pasien yang tidak dapat dioperasi, terapi medikamentosa yang tercantum dilanjutkan berdasarkan pedoman yang sesuai untuk penatalaksanaan HF.
Singkatan: AF, atrial fibrillation; HF, heart failure; HTN, systemic hypertension; PCN, penicillin; RF, rheumatic fever.
Sumber: Disadur dari, P Bloomfield: The medical management of valvular heart disease. Heart 87:395, 2002, dengan izin.
Jika AF merupakan onset pada MS tidak cukup hebat untuk memerlukan PMBV atau bedah komisurotomi, sinus ritme diusahakan secara farmakologi atau dengan shok listrik merupakan indikasi. Biasanya, cardioversi dilakukan setelah pasien diterapi antikoagulan setidaknya selama 3 minggu berurutan. Jika kardioversi diindikasikan lebih cepat, heparin intravena dapat diberikan dan TEE dilakukan untuk menyingkirkan adanya trombus pada atrium kiri sebelum prosedur. Konversi sinus ritme jarang berhasil pada pasien MS berat, khususnya pada pasien yang mengalami pembesaran LA atau AF lebih dari 1 tahun.
Mitral valvotomi
Hanya jika ditemukan kontraindikasi, mitral stenosis diindikasikan pada pasien dengan gejala fungsional New York Heart Association(NYHA) grade II-IV dengan luas katub <~1,0cm2/m2 luas permukaan tubuh, atau <1,5cm2pada pasien dewasa dengan berat badan normal. Mitral valvulotomi dapat dilakukan dengan 2 teknik: PMBV dan bedah valvotomi. Pada PMBV (Gbr. 230-2 dan 230-3), sebuah kateter diarahkan langsung ke dalam atrium kiri melalui punksi transeptal, dan balon tunggal melalui katub dan dipompa pada orificium katub. Pasien ideal Ideal memiliki daun katub yang lentur dengan sedikit atau tanpa kalsium komisura. Sebagai tambahan, struktur subvalvular tidak harus berarti digores atau ditipiskan dan tidak boleh ada trombus atrium. Hasil jangka pendek dan jangka panjang prosedur ini pada pasien yang tepat akan memiliki hasil yang sama dengan bedah valvotomi, tetapi dengan lebih sedikit morbiditas dan lebih rendah tingkat mortalitas selama prosedur. Keberhasilan pada pasien muda (<45 tahun) dengan katub yang lentur tinggi, dengan tingkat sekitar 80-90% selama 3-7 tahun. Oleh karena itu, PMBV menjadi prosedur pilihan pada pasien bila dapat dilakukan oleh operator yang terampil pada pusat kedokteran

Teknik Inoue balloon pada mitral balloon valvotomy.A. Setelah punksi transeptal, balon kateter didorong masuk ke septum atrium , kemudian menuju katub mitral dan ke ventrikelkiri. B. Balon dipompa bertahap dalam lubang mitral.
Simultaneous left atrial (LA) and left ventricular (LV) pressure sebelum dan setelah percutaneous mitral balloon valvuloplasty (PMBV) pada pasien dengan mitral stenosis berat. (Courtesy of Raymond G. McKay, MD; with permission.)

Transthoracic echocardiography bermanfaat dalam mengidentifikasi pasien untuk prosedur perkutaneus, dan TEE rutin dilakukan untuk menyingkirkan thrombus atrium kiri. Suatu “skor echo” dikembangkan untuk menjadi pedoman penentuan. Jumlah skor untuk tingkat kekakuan daun katub, kalsifikasi, dan pergerakan, serta luas kekakuan subvalvular. Skor rendah memberikan prediksi lebih tinggi kemungkinan keberhasilan PMBV. Pada pasien yang tidak mungkin dilakukan PMBV, atau kebanyakan pasien restenosis, “open valvotomi” menggunakan kardiopulmonal bypass penting dilakukan, Untuk menambah pembukaan komisura mitral, penting untuk menghilangkan beberapa perlengketan subvalvular dari muskulus papilaris dan korda tendinea untuk menghilangkan deposit kalsium yang luas, dengan demikian peningkatan fungsi katub sebaik menghilangkan trombi atrial. Tingkat mortalitas perioperatif sekitar~2%. Keberhasilan valvotomi ditentukan dengan pengurangan 0% pada gradient katub mitral dan dua kali luas katub mitral. Keberhasilan valvotomi, dengan balon atau bedah biasanya berdampak pada perbaikan gejala dan hemodinamik serta memanjangkan angka harapan hidup. Meskipun demikian, tidak ada bukti bahwa prosedur ini memperbaiki prognosis pasien dengan sedikit atau tanpa gangguan fungsional. Oleh karena itu, kecuali embolisasi sistemik berulang atau hipertensi pulmonal hebat terjadi (tekana sistolik PA >50mmHg pada saat istirahat atau >60mmHg saat bekerja), valvotomi tidak direkomendasikan pada pasien yang tanpa gejala dengan atau tanda stenosis ringan (luas katub mitral >1,5cm2). Bila didapatkan adanya sedikit perbaikan setelah valvotomi, prosedur tidak efektif, yang menginduksi MR, atau berkaitan dengan adanya penyakit katub atau miokard. Sebagian pasien yang mengalami bedah mitral valvotomi membutuhkan bedah ulang setelah 10 tahun. Pada pasien hamil dengan MS, valvotomi tidak akan dilakukan bila kongesti paru terjadi meskipun dengan terapi medis yang intensif. PMBV merupakan strategi pilihan pada keadaan ini dan dilakukan dengan TEE atau dengan minimal atau tanpa terkena sinar x.
Mitral valve replacement (MVR) dilakukan pada pasien dengan MS yang disertai dengan MR bermakna, distorsi hebat katub oleh transkateter atau operasi manipulasi, atau tidak memungkinkan peningkatan fungsi katub bermakna setelah tindakan bedah. MVR telah rutin dilakukan dengan pengawasan penambahan chorda untuk mengoptimisasi perbaikan fungsi LV. Mortalitas perioperatif bervariasi seiring usia, fungsi LV, dan adanya CAD, serta dihubungkan dengan komorbiditas. Rata-rata 5% dari kesemuanya, namun lebih rendah pada pasien muda dan dua kali lebih tinggi pada pasien tua dengan komorbid (Tabel 230-3).Sejak didapatkan juga komplikasi jangka panjang dari penggatian katub mitral (hal 1480), pasien yang dalam evaluasi preoperasi dianjurkan kemungkinan dibutuhkannya MVR jika ditemukan MS berat – luas orifisium < 1cm2 – isertai NYHA kelas III, gejala disertai aktivitas umum meskipun dengan terapi medis optimal. Angka harapan hidup dalam 10 tahun dengan operasi sekitar ~70%. Prognosis jangka panjang memburuk pada pasien tua dan memiliki kecacatan dan penurunan CO preoperasi. Hipertensi pulmonal dan disfungsi ventrikel kanan merupakan resiko tambahan untuk hasil yang buruk.
Tabel 230-3 Tingkat mortalitas pasca operasi

Tabel 230-3 Tingkat mortalitas pasca operasia

Operation

Number

Operative Mortality (%)

AVR (isolated)

12,501

2.8

MVR (isolated)

3788

5.3

AVR + CAB

12,748

5.2

MVR + CAB

2683

10.3

AVR + MVR

1018

8.8

MVP

3982

1.0

MVP + CAB

4293

7.0

TV surgery

4358

9.6

PV surgery

432

5.2

aData untuk tahun 2004, 594 pusat melaporkan prosedur sejumlah 232,050. Data diambil dari the Society of Thoracic Surgeons http://www.sts.org/sections/stsnationaldatabase/publications/executive/article.html.

Singkatan: AVR, aortic valve replacement; CAB, coronary artery bypass; MVR, mitral valve replacement; MVP, mitral valve repair; TV surgery, tricuspid valve repair and replacement; PV surgery, pulmonic valve repair and replacement.