Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Wednesday, July 27, 2011

DOA

Apakah doa dapat mengubah suatu keadaan secara tiba-tiba? Tidak selalu, tapi doa akan mengubah cara Anda memandang keadaan tersebut.

Apakah doa mengubah kondisi keuangan Anda di masa depan? Tidak selalu, tapi doa akan mengubah kepada siapa Anda berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saturday, July 16, 2011

FASE KEHIDUPAN



“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)


Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Thursday, July 14, 2011

Jika Tuhan Menjatuhkan "Uang" dan "Batu"


Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.

Pekerja itu berteriak-teriak tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia

Wednesday, March 30, 2011

Quote : Biarkan Tuhan yang Menilaimu

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Friday, February 25, 2011

Memahami Pluralisme di Indonesia

Kamis, 24 Februari 2011

di Aula Mapolda Jateng, Semarang



oleh: Mgr. Johannes Pujasumarta


Uskup Keuskupan Agung Semarang





1. Pluralisme Indonesia Sebuah Kenyataan

Kenyataan Indonesia adalah plural, majemuk dalam budaya, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap orang Indonesia berada dalam pluralitas tersebut. Karena itu, dialog merupakan cara dewasa menjadi Indonesia. Dengan demikian dialog bukan sekedar suatu pilihan, melainkan keniscayaan untuk membangun Indonesia. Dalam dialog sejati toleransi saja tidak cukup.


Lebih dari toleransi perlu diupayakan mengembangkan sikap saling mengasihi dan saling menghormati (mutual love and mutual respect).antar warga Indonesia yang beragam budaya, beraneka agama, dan berbagai status sosial ekonomi. Program inkulturasi budaya, kerukunan hidup beragama, dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir merupakan perwujudan dialog sebagai cara cerdas menjadi Indonesia.

Wednesday, October 13, 2010

Negara atau neraka ?



Kemarin sore(12.10.10) dalam ibadah Rosario harian di sekret KMK UNHAS , saya tiba-tiba diminta menjadi pemimpin doa. Semuanya terkesan normal dan khidmat apalagi semua yang ikut bersuara emas. Hingga saat penutup setelah menyelesaikan rangkaian manic-manik Rosario, saya membuka salah satu halaman puji syukur dan mendoakan doa penyerahan kepada Santa Perawan Maria.

Monday, July 26, 2010

It is …


Diambil dari Catatan Bunda Maria Santa Perawan Suci

It's so good to know that you have someone who'll be willing to help you cope up in every frustrations you're having. Every depressing moments, every down moments, every self-worthless-realization moments, he'd/she’d be there, not because you want someone to be with you, but because he/she wants to be with you.

Tuesday, August 18, 2009

Apa ada bentuk aktif dari kata "LUPA" ?

Sekedar catatan tolo-tolo dari seorang tolo-tolo

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata lupa diartikan seperti pada catatan berikut :

lu·pa v 1 lepas dr ingatan; tidak dl pikiran (ingatan) lagi: krn sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dsb): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu;
-- kacang akan kulitnya, pb tidak tahu diri; lupa akan asalnya;
-- daratan bertindak (bersikap) tanpa menghiraukan harga diri (sehingga melampaui batas); tidak peduli apa-apa; -- diri tidak sadar akan dirinya;
lu·pa-lu·pa i·ngat a 1 tidak lupa, tetapi tidak ingat benar; masih ingat, tetapi kurang pasti; agak lupa; 2 sudah lemah ingatannya (tt orang tua dsb);
me·lu·pai ark v lupa akan (sesuatu);
~ diri tidak ingat lagi akan diri; pingsan;
me·lu·pa·kan v 1 lupa akan; tidak ingat akan: sekali-kali tidak boleh ~ nasihat orang tua; 2 menjadikan lupa; menghapus dr ingatan: saya harap Saudara dapat ~ perselisihan kita itu; 3 melalaikan; tidak mengindahkan: dia dipecat krn telah ~ kewajibannya;
pelanduk ~ jerat, tetapi jerat tak ~ pelanduk, pb orang yg berutang biasanya mudah lupa akan yg berpiutang, sebaliknya yg berpiutang tidak lupa akan orang yg berutang kepadanya;
ter·lu·pa v tiba-tiba lupa; tidak teringat; sudah dl keadaan lupa;
lu·pa-lu·pa·an 1 v pura-pura lupa; 2 a sering lupa;
pe·lu·pa n orang yg lekas (sering) lupa;
ke·lu·pa·an 1 n perihal lupa; 2 v terlupa; tidak teringat; ada yg dilupakan


Pernahkah anda mencoba atau diminta atau dipaksa atau memaksa diri anda untuk melupakan sesuatu ? Apakah akhirnya anda melupakan hal tersebut ? Jika ya, apakah keberhasilan itu karena anda melakukan seperti yang ada di pertanyaan sebelumnya ? Atau anda malah semakin mengingat hal tersebut ?

Saya mencoba untuk melupakan "bentuk aktif dari lupa" yang dalam kamus disebutkan berarti menjadikan lupa. Tapi, ternyata yang terjadi adalah bahwa semakin mencoba untuk "melupakan" , semakin "sesuatu" yang ingin kita lupakan kita ingat kembali.
Beda halnya bila, "melupakan" berarti membuat "sesuatu" itu menjadi tidak penting sehingga kita membiarkan "sesuatu" itu terlupakan dari pikiran kita.

Pada kamus di atas , salah satu arti dari melupakan adalah melalaikan tapi bukankah itu bermakna pasif karena kita melakukan apa-apa secara aktif. Yang terjadi malahan kita tidak melakukan sesuatu.

So, apa ada bentuk aktif dari kata lupa ?
Sering sekali kita membuat alasan bahwa kita lupa, bukankah itu sebuah kata yang bermakna ketidak acuhan atau kelalaian kita . Apakah pantas kita mencari pembenaran atas alasan lupa ?








Friday, July 10, 2009

Lagi-lagi co-pas

Cerita ini sumbernya dari sini tapi pertama kali baca di sini. Mudah-mudahan punya makna buat yang baca skalian ngasih koment kalo sempat.

HIDUP ADALAH ANUGERAH

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orangkecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia. Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?" Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya. Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."


Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah . Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.


Hidup adalah anugerah

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggald i jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan seseorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama. Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan. Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan adadi dunia ini. Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.

Thursday, July 2, 2009

Untuk para calon pemimpin

Recommended buat para calon pemimpin. Entah untuk skala kecil maupun besar cobalah baca dan nikmati kisah ini :


Suatu hari ada seorang pedagang berjalan bersama kudanya pulang dari pasar. Barang dagangan dimuat oleh kuda jantan itu. Barang-barang itu akan dijual kembali di desa, tempat pedagang itu tinggal

Di tengah jalan, di daerah yang sepi dan jauh dari desa-desa lain, tampaklah dari kejauhan segerombolan perampok bergerak maju mendekatinya. Melihat pertanda yang membahayakan itu, dengan gugup pedagang itu berkata kepada kudanya, “Ayo, kita lari ke desa yang paling dekat di depan kita. Jika tidak, perampok-perampok itu akan menyiksa kita dan menjarah barang dagangan kita.”

Kuda itu tidak mempedulikan kata-kata tuannya. Tetapi kemudian ia menjawab, “Maafkanlah hambamu ini, tuan. Mengapa kita harus lari tunggang langgang menjauhi perampok-perampok itu?”

Pedagang itu semakin panik. Lantas ia berkata dengan nada keras, “Ah, kamu tolol. Jika kita tidak lari, kita pasti akan ditangkap oleh perampok-perampok itu. Aku akan mereka lukai dan barang dagangan kita akan dirampas. Sedangkan kamu sendiri akan mereka bawa.”

Kuda itu malah berhenti. Ia sulit sekali ditarik oleh pedagang itu. Kemudian ia berkata, “Jadi masalahnya hanya soal ganti tuan? Selama bebannya masih sama dan harus hamba pikul di punggung hamba, tak soal bagi hamba siapa orang yang menjadi tuan hamba."

Pemilik kuda itu tertegun sejenak lantas mulai lari menjauhi para perampok. Sementara kuda itu berlari di belakangnya dengan santai.

Begitu banyak pemimpin sudah yang kita miliki dalam hidup kita. Ada pemimpin pemerintah dari ketua RT hingga presiden. Ada juga para pemimpin kelompok-kelompok tertentu yang juga silih berganti memangku jabatan. Pertanyaannya, apakah para pemimpin itu sungguh-sungguh membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat atau para anggotanya?













Thursday, June 4, 2009

Just asking your heart !

Seorang anak sekolah tewas akibat ditikam , merupakan salah satu judul berita surat kabar local kemarin. Pelaku adalah siswa kelas dua SMA dan merupakan adik kelas korban. Dari informasi yang diberikan kepolisian, motifnya diduga sebagai balas dendam atas pengeroyokan yang dilakukan oleh korban dan teman-temannya terhadap pelaku seminggu sebelum penikaman. Berita lengkapnya dapat dibaca di sini (silakan klik di gambar).


Bagaimana sebenarnya pola keseharian anak sekolah khususnya SMA saat ini ? sampai sejauh mana sekolah bertanggung jawab terhadap kenakalan anak sekolah yang bukan lagi sekedar kenakalan anak remaja ? Di mana letak peranan orang tua ?







Saturday, May 30, 2009

MENGUBAH DUNIA DENGAN MENGUBAH DIRIKU.

Ini adalah renungan yang paling saya sukai. Ceritanya pendek tapi maknanya dalam dan setiap orang kayaknya wajib membacanya. Topik ini saya copy paste dari grup facebook yang sama dengan beberapa renungan sebelumnya.

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: 'Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!'

'Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.'

'Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.' Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!'

Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)












[get this widget]

Sunday, May 24, 2009

A wonderfull chat with G.O.D.

Cerita ini sekali lagi dicomot dari sebuah grup yang saya ikuti di facebook. Berhubung maksudnya baik dan dalam artinya sehingga semua orang pun bisa ikut membacanya, maka saya pasang di blog ini. Semoga bermanfaat dan selamat berkontemplasi !


"Did You Call Me?"
==============

God: Hello. Did you call me?
Me: Called you? No... Who is this?

God: This is GOD. I heard your prayers.
So, I thought I will chat.
Me: I do pray. Just makes me feel good.
I am actually busy now.

God: What are you busy at? Ants are busy too.
Me: Don't know. But, I can't find free time.
Life has become hectic. It's rush hour all the time.

God: Sure. Activity gets you busy.
Productivity gets you results.
Activity consumes time. Productivity frees it.
Me: I understand. Yet, I still can't figure out. By the way,
I was not expecting YOU to call me on instant messaging chat

God: I wanted to solve your fight for time, by giving you some
clarity. In this internet era, I wanted to reach you
through the way in which you would understand.

Me: Tell me, why has life become complicated now?
God: Stop analyzing life. Just live it. Analysis makes it
complicated.

Me: Why are we constantly unhappy?
God: Your today is the tomorrow that you worried about
yesterday. You are worrying because you are analyzing.
Worrying has become your habit. That's why you are not
happy.

Me: How can we not worry when there is so much uncertainty?
God: Uncertainty is inevitable. Worrying is optional.

Me: There is so much pain due to uncertainty.
God: Pain is inevitable - it will come. Suffering is optional,
you can choose.

Me: If suffering is optional, why do good people also suffer?
God: Diamonds cannot be polished without friction.
Gold cannot be purified without fire.
Good people go through trials, but, don't suffer.
With that experience, their life becomes better,
not bitter.

Me: You mean to say such experience is useful?
God: Yes. Experience is a hard teacher.
She gives the test first and the lessons afterwards.

Me: Still, why should we go through such tests?
Why can't we be free from problems?
God: Problems are purposeful roadblocks offering beneficial
lessons to develop strength.
Inner strength comes from struggle and endurance,
not when you are free from problems.

Me: Frankly, in the midst of so many problems,
we don't know where we are heading ...
God: If you look outside, you will not know where you are going.
Look inside.
Looking outside, you dream.
Looking inside, you awaken.
Eyes provide sight. Heart provides insight.

Me: Sometimes not succeeding fast seems to hurt more than
moving in the right direction. What should I do?
God: Success is a measurement decided by others.
Satisfaction is a measurement decided by you.
Knowing the road ahead is more satisfying.
You work with the compass. Let others work with the clock.

Me: In tough times, how do you stay motivated?
God: Always look at how far you have come rather than how far
you have to go.
Always count your blessing, not what you are missing.

Me: What surprises you about people?
God: When they suffer they ask, "Why me?"
When they prosper, they never ask "Why me?"
Everyone wishes to have truth on their side.
Few want to be on the side of the truth.

Me: Sometimes, I ask, "Who am I? Why am I here?"
I can't get the answer.
God: Seek not to find who you are, but, to determine who you
want to be. Stop looking for a purpose as to why you are
here. Create it.
Life is not a process of discovery.
It's a process of creation.

Me: How can I get the best out of life?
God: Face your past without regret.
Handle your present with confidence.
Prepare for the future without fear.

Me: One last question. Sometimes, I feel my prayers are not
answered.
God: There are no unanswered prayers. At times, the answer is
"NO."

Me: Thank you for this wonderful chat.
God: Well, keep the faith and drop the fear.
Life is a mystery to solve not a problem to resolve.

GBU




[get this widget]

Monday, May 4, 2009

Ceritakan pada Dunia Untukku

Postingan ini saya ambil dari sebuah grup yang saya ikuti di facebook. Ceritanya menggugah dan memberikan perspektif lain dalam pencarian Tuhan

Ceritakan pada Dunia Untukku
Oleh: John Powell, S.J.

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.

Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya.
Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan.
Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?"
"Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.

"Oh," sahutnya.
"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan."

Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.
"Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu. "

Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.

Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.
Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.

Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.

Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.

"Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung.

"Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.."

"Kamu mau membicarakan itu?"

"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"

"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?"
Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini."

Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.
"Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya.
Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "
"Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan.
Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga.

Tapi tak terjadi apa pun.."

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu.

"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka.

Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya.
Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.
"Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali."
Korannya turun perlahan 8 cm. " Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku.
Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.

"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya. "

"Tommy," aku tersedak,
"Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari.
Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."

"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.

Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya.
"Saya tahu, Tommy."
"Maukah Bapak menceritakannya untuk saya?
Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?"
"Ya, Tommy. Saya akan melakukannya. "

(Sebarkan e-mail ini untuk membantu Pastor John menyebarkan cerita Tommy pada dunia).













[get this widget]

Monday, April 13, 2009

Damai ala "Pain"

Apakah di antara yang membaca postingan ini merupakan penggemar serial komik Naruto ? Usia 23 tahun ternyata tidak menghalangi saya untuk menyukai serial komik ini. Dilihat dari tema yang mungkin lebih cocok untuk anak dan remaja, namun memerlukan pikiran yang jernih untuk menangkap pesan-pesan yang mungkin ingin disampaikan oleh penulis melalui karakter Naruto yang pada keadaan sehari-hari merupakan anak yang tidak memiliki kelebihan apa-apa selain membekal seekor monster yang terperangkap di dalam tubuhnya. Tiap karakter memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Memiliki ciri khas masing-masing (bukan bermaksud untuk mempromosikan naruto)
Posting kali ini menitikberatkan pada pemikiran pain, ketua geng akatsuki yang pada seri terakhir ternyata adalah Nagato (untuk jelasnya baca saja komiknya). Dalam seri 390- sekarang diceritakan mengenai pertarungan Naruto melawan Pain. Pain memiliki cita-cita mendamaikan dunia. Cara yang ditempuhnya adalah dengan menghancurkan semua desa dan membangun kembali sebuah desa yang sama sekali baru. Kisahnya mungkin mirip dengan kisah air bah yang dialami oleh nabi Nuh.
Dewasa ini, sepertinya cara-cara seperti yang digunakan oleh Pain juga digunakan oleh manusia nyata dan tidak hanya muncul dalam komik. Orang berupaya menghancurkan setiap lawannya dengan alasan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang damai. Entahlah...
Namun seperti itulah gambaran yang muncul dalam pikiran saya.

Thursday, April 9, 2009

Apakah kita harus menjadi "atheis" untuk menjadi damai???

Memasuki pekan suci tahun ini, ada beberapa kejadian yang mungkin pantas untuk direnungkan. Dalam dua kesempatan yang berbeda saya terlibat dalam diskusi ringan seputar agama yang intinya –menurut saya adalah – sebenarnya agama mana yang paling benar ?

Dalam diskusi pertama, saya lebih menjadi pendengar bagaimana seseorang yang lahir dan besar dalam sebuah agama mencoba mencari pengenalan diri akan agama mana yang paling benar yang menuntunnya menjadi seorang “atheis” dan mempelajari –entah seberapa jauh beliau belajar tentang masing-masing agama- dan pada akhirnya kembali meyakini agama yang diyakini keluarganya. Selain itu, bagaimana orang lain memandang mengenai agama yang satu dengan agama yang diyakininya yang menurut beliau telah dikonfirmasikan dengan umat dari agama tersebut-. Satu hal yang menarik adalah bahwa seorang atheis itu bukanlah orang yang tidak mempercayai satu ajaran agama untuk diyakini melainkan orang yang tidak mau tahu tentang sekitarnya, orang yang tidak ingin mempelajari agama dan meyakininya.

Dalam diskusi yang kedua, pada awalnya membahas mengenai pemilu hari ini –yang entah bagaimana pada akhirnya – kemudian mendiskusikan mengenai aliran dalam suatu agama yang memiliki perbedaan dengan mengambil dasar pada kitab suci yang sama. Namun memiliki penafsiran yang sedikit berbeda dan menitikberatkan pada ayat-ayat tertentu.

Lalu, apa yang dapat direnungkan dari dua pengalaman tersebut? Manusia telah diberi otak untuk berfikir, memilih dan menentukan. Manusia memiliki hati yang siap menyuarakan “kebenaran” saat belum tercemar oleh keduniawian. Walau bagaimana pun setiap penganut keyakinan pasti meyakini keyakinannyalah yang paling benar. Sehingga, akan selalu ada perbedaan yang akan memisahkan tiap agama. Tapi, apakah perbedaan itu tidak dapat dikesampingkan untuk menegakkan kedamaian ? Atau setidaknya, menjadi penyebar apa yang kita yakini dengan cara-cara damai ?

Entah salah entah benar, ada sebuah ungkapan bahwa hanya ada satu kebenaran. Yang membedakan adalah bagaimana orang memiliki persepsi tentang kebenaran itu. Ungkapan tersebut masih menjadi pertanyaan.

Ajari kami Tuhan

Hidup kami sangatlah rapuh ya Tuhan
Berjalan seorang diri melewati hari-hari
Menatap matahari dan bulan berganti menerangi
Atau menatap langit mencari kebenaran

Perjalanan kami tak ada arah tanpaMu ya Tuhan
Berziarah di dunia fana
Dimana kebenaran dan kebohongan berbeda setipis kabut pagi
Saat suara hati kami tak mampu menandingi dahsyatnya tawaran dunia

Ajari kami ya Tuhan mengerti tentang kebenaran yang hakiki
Ajari kami Tuhan menatap hari seperti Engkau
Ajari kami memahami setiap anugrah yang Engkau curahkan pada kami
Ajarlah kami menjadi sempurna spertiMu
Karena kami manusia rapuh tanpaMu

Selamat memasuki pekan suci

Attonk





[get this widget]